Analisa Cepat ala KakdrWay bagi Pemula

Seluruh isi artikel ini berhubungan dengan Syarat & Strategi Dasar Pemilihan Emiten ala KakdrWay yaitu:

Syarat Utama:
1. Uang Dingin
2. Sabar

Standard Screening:
1. Harga sudah turun (Pisau Jatuh) minimal 50% dari harga tertingginya – Semakin jatuh semakin bagus
2. PBV < 1 – Lebih kecil lebih baik
* PBV > 1 dapat diterima dengan syarat Dividen Yield minimal 2X nya. Misalkan PBV = 2X Dividen Yield minimal 4%
3. DER <1 – Lebih kecil lebih baik
* DER > 1 dapat diterima dengan syarat ROE minimal 10X nya.
Misalnya DER = 2X ROE minimal 20%
4. ROE Positif – Semakin besar semakin baik
5. Dividen Rutin

Paman, AUTO ini sudah pisau jatuh, bolehkan saya membelinya?

Seringkali gue mendapatkan pertanyaan pertanyaan seperti ini dari teman teman yang baru di dunia saham ingin menjadi Trader/Investor Anti Cut Loss.
Yang bisa kelihatan itu cuma pisau jatuhnya, tetapi amankah emiten tersebut dari sisi lainnya?

Dari sekian banyak yang perlu di ketahui dan dimengerti, ada 3 hal paling dasar yang bisa kita gunakan sebagai pemula yaitu:
1. Mengukur keamanan Emiten
2. Mengukur potensi keuntungan atas modal kita
3. Mengukur Perencanaan & sifat uang kita

1.Mengukur keamanan Emiten

Baca Pengertian Sederhana PBV DER ROE & DIVIDEN ala Kakdr
Mengukur keamanan emiten yang paling sederhana adalah dengan :
1. Mengukur hutang perusahaan tersebut (DER),
2. Mengukur kinerja pertahun perusahaan tersebut (ROE),
3. Mengukur Kredibilitas Management
4. Mengukur Komposisi kepemilikan saham emiten tersebut.

Fungsi Mengukur tingkat hutang emiten (DER)
*lihat gambar 1
Adalah jika sampai kemudian emiten mengalami keadaan terburuk , pailit atau bangkrut misalnya. Maka dengan hutang yang kecil (DER <1) setelah emiten di jual untuk membayar hutang, masih ada harapan tersisa uang untuk dibagikan kepada kita pemegang saham minoritas (retail)

Fungsi Mengukur kinerja tahunan emiten (ROE)
lihat gambar 1
Adalah kita hendak memastikan bahwa dalam keadaan sulit pun perusahaan masih bisa mencetak keuntungan walaupun kecil.
Jika di awal tahun kita memiliki modal 1.000.000, dan setelah satu tahun berhasil mendapatkan keuntungan 1.000 Rupiah pun, itu artinya ditahun berikutnya memulai usaha kita dengan modal 1.001.000.
Tetapi jika ternyata setelah 1 tahun malah rugi 1.000 Rupiah, itu artinya kita harus memulai tahun berikutnya dengan modal 999.000.
Logikanya : Dengan modal 1.000.000 aja emiten tersebut masih rugi, bagaimana kalau sampai modal usahanya tinggal 999.000?

Fungsi Mengukur Kredibilitas Management (Pelaksana perusahaan)
*lihat gambar 4
Salah satu cara paling cepat adalah melihat histori pembagian dividen yang dilakukan oleh emiten.
Apapun status kita, sebagai pencari kerja kek, sebagai pemberi kerja kek, sebagai pemodal kek…. setiap hari sama sama butuh makan, artinya butuh penghasilan.
Jika management mendapatkan gaji dari kepercayaan yang diberikan untuk mengelola perusahaan, maka sebagai pemodal adalah wajar jika kita juga mendapatkan bagi hasil atas keuntungan perusahaan setiap tahunnya. Emiten yang rajin membagikan dividen, kecil kemungkinannya memiliki management dengan tata kelola perusahaan (GCG) yang buruk.
Membagikan dividen itu dana tunainya harus ada.
Tidak mungkin management bisa membagikan dividen jika kas tidak memiliki uang.
Pinjam uang untuk bagi dividen? kita sudah antisipasi dari sisi DER

Fungsi Mengukur Komposisi kepemilikan saham emiten
*lihat gambar 2
Komposisi kepemilikan suara itu sangat penting. Ini semua berhubungan dengan yang namanya pemungutan suara untuk mengambil keputusan.
Jika sebuah perusahaan memiliki A B C D sebagai pemegang sahamnya dan masing masing memiliki suara yang sama yaitu 25%
Maka kemungkinan tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat sangat rawan terjadi. Karena harus disetujui oleh minimal 3 orang baru bisa mencapai komposisi suara 50% + 1 suara.

Tetapi jika A memiliki 55% suara sementara B C D masing masing memiliki 15% suara, maka dalam keadaan membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat dapat dengan mudah tercapai.
Jika A mengambil keputusan X , maka keputusan itu bisa langsung menjadi mutlak menang suara.
Bagaimana jika A mengambil keputusan yang merugikan perusahaan?
Jangan kuatir….
Dengan kepemilikan yang besar, artinya A juga akan mengalami kerugian terbesar jika sampai perusahaan merugi.
Logikanya aja, kalau perusahaan adalah milik lu, apakah lu akan mengambil keputusan yang jelek buat perusahaan?
Dalam hal ini (ilustrasi AUTO), sebagai pemegang porsi terbesar Astra International pasti akan mengambil keputusan yang paling menguntungkan. Karena Rugi atau Untung atas keputusannya, dia akan menanggung 80% konsekuensi nya.

2.Mengukur Potensi Keuntungan atas Modal Kita

Baca : Pengertian Sederhana PBV DER ROE & DIVIDEN ala Kakdr
Baca : Matematika – A Turun ke X & X Naik ke A
Baca : Take Profit Pakai Patokan
Baca : Kakdr Way – Yang Penting Jangan Rugi Dulu

Tujuan kita semua dalam berinvestasi atau berusaha adalah sama, yaitu prinsip ekonomi “Dengan modal sekecil kecilnya, mendapatkan keuntungan sebesar besarnya”

Setelah mengukur keamanan emiten, kita harus mengukur potensi keuntungan yang bisa kita dapatkan atau kita harapkan.
Mengukur potensi keuntungan yang bisa kita dapatkan bisa berasal dari:
1. Mengukur potensi keuntungan dari Pisau Jatuh
2. Mengukur potensi keuntungan Harga dibanding Nilai
3. Mengukur potensi keuntungan dari Dividen

Fungsi Mengukur Pisau Jatuh
*lihat gambar 3
Selama kita meyakini bahwa sebuah emiten itu sehat dengan tata kelola perusahaan (GCG) yang baik, maka turunnya harga adalah sebuah berkah.
Turunnya harga mengakibatkan PBV semakin kecil dan mengakibatkan Dividen yield akan akan kita dapatkan kedepannya semakin besar. Disamping potensi mendapatkan Capital Gain yang semakin besar seiring dengan semakin turunnya harga jika rebound nanti.
Pahami ini…..
Harga dari 1.000 turun ke 500 itu namanya turun 50%
Harga dari 500 naik ke 1.000 itu namanya naik 100%

Jika kita membeli sebuah saham di harga 1.000 sebanyak 10.000.000 Rupiah yang kemudian turun ke 500, maka kita hanya mengalami kerugian sebesar 50% atau sebesar 5.000.000 rupiah.
Tetapi jika kita membeli sebuah saham di harga 500 sebanyak 10.000.000 Rupiah yang yang sudah turun dari harga 1.000 Rupiah, maka kita hanya mendapatkan keuntungan sebesar 100% atau sebesar 10.000.000 rupiah.

Fungsi Mengukur Potensi keuntungan dari Harga dibanding Nilai
*lihat gambar 2
Sewajarnya Harga adalah sama dengan Nilai Buku.
Jika Aset bersih sebuah perusahaan adalah 100.000.000 dengan total diterbitkan 100.000 lembar saham (1.000 lembar / lembar) maka Harga wajarnya adalah 1.000 Rupiah selembarnya.
Jika kemudian hanya dijual seharga 500 Rupiah, itu artinya ada potensi keuntungan sebesar 500 Rupiah jika kita kemudian bisa menjualnya di harga sesuai nilai buku nya yaitu 1.000 Rupiah.
Tetapi harus diingat, bahwa pengukuran ini hanya berdasarkan data yang diberikan, kita tidak mengetahui mengapa emiten hanya dihargai 50% nilai karena ingat lagi…. Anda yang sedang membaca artikel ini diasumsikan adalah pemula yang masih banyak yang tidak dimengerti maupun dipahami maupun dikuasai. Untuk mengetahui secara mendalam kita di tuntut untuk bisa membaca dan mengerti Laporan Keuangan yang diterbitkan emiten.

Fungsi Mengukur Dividen Yield
*lihat gambar 4
Nah, Mengukur Keamanan Emiten (Poin Nomor 1) dan Mengukur Potensi Keuntungan atas Modal Kita (Poin Nomor 2) itu bisa kita dapatkan dengan cepat dari berbagai data yang bisa kita googling.
Tetapi ada 2 faktor yang kita tidak bisa nilai secara tepat dan akurat yaitu :
1. Kapan?
2. Apakah keputusan kita benar atau salah?
Kedua poin ini walaupun kita sudah berusaha meminimalkan resiko dan memperbesar reward tetapi bisa saja akan terjadi. Bagaimanapun, setiap tindakan walaupun se hati hati apapun, tetap memiliki kemungkinan terjadi yang tidak kita harapkan.

Oleh karena itu, dividen itu sangat penting.
Selain sebagai ongkos tunggu sampai target kita tercapai, juga sebagai faktor meminimalisir kerugian jika kemudian emiten tersebut pailit atau bangkrut (delisting) tanpa menyisakan apapun bagi kita sebagai pemegang saham retail kedepannya.
Jika kedepannya emiten sampai delisting, dan nilainya menjadi nol, minimal modal kita sudah kembali sebagian dari dividen yang kita terima setiap tahunnya.

Mengukur kualitas Dividen itu kembali ke selera kita masing masing. berapa persenkah yang menurut kita itu wajar?
Yang penting ada dividen kah? minimal 1% kah? 2% kah? 3% kah? 5% kah? atau berapa?
Dari history dividen yang ada, kita sudah bisa menghitung potensi dividen yield yang akan kita dapatkan kedepannya jika dividen yang akan datang adalah setara dividen 1 tahun terakhir, atau 3 tahun terakhir, atau 5 tahun terakhir.
Cucok gak beli di harga X dengan potensi dividen yield Y%?

3.Mengukur Perencanaan & Sifat Uang Kita

Baca : AVG & TP Plan Template Ala Kakdrway
Baca : KakdrWay – Disclaimer

Poin paling akhir, tetapi merupakan poin paling penting adalah Perencanaan dan keberhasilan eksekusi sesuai rencana. Mungkin 70% keberhasilan bergantung pada Poin Perencanaan dan Sifat Uang ini.

Seringkali yang terjadi adalah perencanaan sudah dibuat sangat matang, tetapi akhirnya gagal di laksanakan (yang berujung kerugia) karena kemudian ragu terhadap perencanaan yang sudah dibuat, kehilangan kepercayaan diri dan sifat uang yang tidak dingin.

Perencanaan sudah dibuat dengan matang, tapi kemudian terpengaruh oleh berita atau analisa orang lain yang bertentangan dengan kita, dan kita mulai ragu dengan keputusan kita.

Uang yang dipakai tidak bersifat dingin, ketika sedang dalam keadaan Floating Loss, mendadak membutuhkan uang sehingga akhirnya Cut Loss, eh tau taunya setelah kita Cut Loss besok lusa harganya malah naik banyak.

Kebanyakan Trading / Investor yang akhirnya harus kehilangan modal mereka bukan karena mereka tidak bisa berhitung atau membuat perencanaan. Tetapi karena tindakan yang tidak sesuai dengan rencana yang sudah dibuat ketika membeli atau menjual sahamnya.

Awalnya membeli dengan keyakinan tinggi, dengan nafsu dan serakah akhirnya membeli melebihi kemampuan. Tau2nya besok harga dibawa turun mulai timbul rasa kuatir. Tau2nya ada berita negatif runtuh sudah rasional dan logika nya.
Cepat cepat Cut Loss walaupun sudah rugi banyak.
Tau2nya beberapa saat setelah cut loss, harga naik tinggi
Perlu diketahui bahwa :
1.000 Turun ke 500 itu namanya turun 50%
500 Naik ke 1.000 itu namanya naik 100%
Ini berlaku seperti 2 belah mata pisau.
Jika kita beli di 500 dan jual di 1.000 itu namanya kita untung 100%.

Tetapi jika kita beli di 1.000 dan Cut loss di 500, walaupun kita hanya kehilangan 50% modal, MAKA untuk mengembalikan modal saja kita perlu mendapatkan keuntungan sebesar 100%

Atau karena keyakinan tinggi, akhirnya membeli melebih batas dana dingin yang ada. Uang dapur bulan depan pun di pakai.
Tau2nya bulan depan harga malah anjlok, sementara kebutuhan dapur sudah tidak bisa menunggu lagi. Listrik harus dibayar, Uang sekolah anak harus dibayar, akhirnya terpaksa Cut Loss.
Tau2nya sekarang Cut Loss besok harga naik tinggi.

Uang Dingin & Sabar
Inilah 2 poin paling pentingnya.
Bursa itu adalah Pasar
Harga tidak sepenuhnya bergantung pada fundamental ataupun teknikal.
Yang paling berpengaruh adalah hukum dasar ekonomi yaitu Hukum permintaan dan penawaran.
Permintaan > Penawaran maka harga akan naik
Permintaan < Penawaean maka harga akan turun
Fundamental & Teknikal hanyalah alat dan sarana saja.
Tetapi semua akan kembali ke Timing dan Momentum.
Menjual di saat yang benar atau salah
Membeli di saat yang benar atau salah

Membeli di saat yang tepat dan menjual disaat yang tepat juga, bisa memberikan kita keuntungan maksimal.

Membeli di saat yang tepat tetapi menjual disaat yang tidak tepat, akan mengakibatkan keuntungan tidak maksimal

Membeli disaat yang tidak tepat tetapi menjual disaat tepat bisa meminimalisir kerugian atau bahkan memetik keuntungan

Membeli disaat yang tidak tepat dan menjual disaat yang tidak tepat juga, ini namanya bencana.

Begitulah kira kira cara analisa cepat bagi pemula yang baru masuk bursa. yang masih belum menguasai sepenuhnya apa itu dunia saham.
1. Mengukur keamanan Emiten
2. Mengukur potensi keuntungan atas modal kita
3. Mengukur Perencanaan & sifat uang kita

Pemula kalau belum pernah rugi besar artinya belum lulus di dunia saham…

Jangan mau di cuci otak dengan pemahaman sesat seperti itu hihihihi.
Dengan Perencanaan yang Benar, Uang Dingin & Kesabaran , jadilah pemula yang bisa lulus di dunia saham tanpa harus mengalami rugi besar.

Yang Penting Jangan Rugi Dulu , Karena dengan Tidak Rugi artinya Sudah Untung.

*** Tambahan:

Jika lu sudah menemukan saham yang sudah cocok tapi memiliki history harga yang sudah naik tinggi seperti ilustrasi diatas, maka lebih baik hindari.

Kenapa? sebagai pemula kita pasti tidak mengetahui kenapa harga tersebut bisa naik begitu tinggi.
Kita bicara saja dari sisi Risk vs Reward. Perhatikan titik A B C & D.

Bagi yang sudah beli di harga A, di harga D dia sudah mengantongi keuntungan sebesar 838%. Sementara kalau kita baru beli di harga D maka untuk mengharapkan keuntungan 100% saja harga harus naik sampai 3.200 Rupiah. Sementara di 3.200 yang beli di titik A sudah mendapatkan keuntungan sebesar 1.782%.
Sementara jika kemudian harga ternyata turun kembali ke titik A, kita berpotensi mengalami kerugian sampai 89%.

Bagi yang sudah beli di harga B, di harga D dia sudah mengantongi keuntungan sebesar 147%. Sementara kalau kita baru beli di harga D maka untuk mengharapkan keuntungan 100% saja harga harus naik sampai 3.200 Rupiah. Sementara di 3.200 yang beli di titik B sudah mendapatkan keuntungan sebesar 396%.
Sementara jika kemudian harga ternyata turun kembali ke titik B, kita berpotensi mengalami kerugian sampai 60%.

Bagi yang sudah beli di harga C, di harga D dia sudah mengantongi keuntungan sebesar 45%. Sementara kalau kita baru beli di harga D maka untuk mengharapkan keuntungan 45% saja harga harus naik sampai 2.300 Rupiah. Sementara di 2.300 yang beli di titik B sudah mendapatkan keuntungan sebesar 109%.
Sementara jika kemudian harga ternyata turun kembali ke titik B, kita berpotensi mengalami kerugian sampai 31%

Tetapi selama perusahaan nya bagus, bukannya harga pasti akan naik mengikuti nilainya? seperti BBCA misalnya.

Kembali lagi, anda yang sedang membaca artikel ini dianggap new comer. Yang artinya pengetahuan didunia saham sudah pasti sangat sedikit.

Memang benar BBCA dalam 10 tahun terakhir cuma ada naik gak ada turunnya. Tapi perlu diketahui bahwa di BEI ada 600+ emiten.
Dan cuma ada 1 emiten yang gak pernah turun seperti BBCA.

Jadi andaikan kita mengambil keputusan untuk all in hanya di 1 emiten dengan harapan bisa jadi the next BBCA, kemungkinan kita mendapatkan hanya sebesar 0.16%.
Hanya 0.16%
Jadi sebagai nubi atau merasa masih nubi, saran gue, sebaiknya hindari saham saham yang uda naik tinggi.

About Kakdr 240 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

3 Comments

  1. Paman.. sekali-kali bahas SAHAM TAMBANG dong kayak ITMG, PTBA dll. Kenapa beberapa analis selalu menyarankan hindari saham tambang. Sementara saya salah satu penyuka DIVIDEN besar. apakah DIVIDEN TLKM yang relatif kecil dibanding ITMG lebih baik atau tidak, jika time frame > 5thn.

Leave a Reply to Rayya Cancel reply

Your email address will not be published.


*