Averaging Up & Averaging Down

Tadi pagi ada seorang teman dari Tele Group KakdrWay Akademi yang bertanya kok sepertinya gue anti banget dengan yang namanya Averaging Up.

Sebenarnya gue bukan anti Averaging Up, tetapi ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk Averaging Up.

Jika saat itu kita membeli sebuah saham di harga 1.000 atas pertimbangan Pisau Jatuh , PBV 0.3X & Dividen Yield 5% (50 Rupiah) misalnya,
Artinya saat itu diharga 1.000 Pisau sudah jatuh 50% , PBV saat itu adalah 0.3X dan Dividen Terakhir adalah sebesar 50 Rupiah.

Lalu kemudian harga merangkak naik menjadi 1.300 (naik 30%). Di harga 1.300 dengan patokan keystat LK terakhir secara otomatis PBV akan naik dan dividen yield akan turun.
Tetapi kemudian pada saat itu emiten bersangkutan mengeluarkan Laporan Keuangan kuartal terbaru dimana dengan LK terbaru tersebut, di harga 1.300 PBV nya menjadi 0.4X . Dan bersamaan itu juga emiten mengumumkan pembagian dividen sebesar 65 Rupiah.

Nah, dalam posisi seperti ini Averaging Up justru menguntungkan. Diharga 1.300 walaupun harga sudah naik 30% tetapi:
* PBV masih 0.4X
* Tetapi pembagian dividen terbaru masih memberikan yield 5% di harga 1.300

Sehingga jika kita beli lagi di harga 1.300 , Modal rata rata terbaru kita masih dibawah 1.300 sehingga secara modal:
* PBV modal kita masih di 0.3X atau mungkin malah lebih rendah
* Dividen yield yang akan kita dapatkan sudah pasti lebih besar daripada 5%

Nah, kalau dalam keadaan seperti ini, jangan ragu ragu kalau mau Averaging Up.

Sekarang coba kita lihat perbedaan Rugi & Untung jika kita Averaging Up dan Averaging Down dengan ilustrasi hitungan:
1. Harga awal adalah 1.000
2. Averaging Up naik 30% vs Averaging Down turun 30%
3. Setiap kali membeli adalah sebesar 5 juta rupiah

Ilustrasi AVG di FP +30% & di FL -30%


A. Jika kita awalnya membeli di harga 1.000
1. Averaging Up ketika posisi Floating Profit +30%
Sebelum kita Averaging Up, Untung kita saat itu adalah sebesar 1.500.000 atau +30% secara persentase. Dengan menambahkan pembelian baru di harga 1.300 (Averaging Up) secara total keuntungan kita tetap 1.500.000 tetapi persentase keuntungannya langsung turun menjadi +15.09% (lihat baris 4 dan 6)

2. Averaging Down ketika posisi Floating Loss -30%
Sebelum kita Averaging Down, Rugi kita saat itu adalah sebesar 1.500.000 atau +30% secara persentase. Dengan menambahkan pembelian baru di harga 700 (Averaging Up) secara total kerugian kita tetap 1.500.000 tetapi persentase kerugiannya langsung turun menjadi -15.09% (lihat baris 15 dan 17)


B. Modal rata rata setelah Averaging Up dan Averaging Down
1. Averaging Up modal rata rata naik dari 1.000 menjadi 1.130
Jika di modal 1.000 untuk profit +30% harga hanya cukup naik 300 Rupiah dari 1.000 ke 1.300 maka di modal rata rata 1.130 untuk kembali profit +30% harga harus naik 339 Rupiah menjadi 1.469 (lihat baris 8)
dibutuhkan lagi kenaikan sampai 1.469 untuk kembali profit +30% secara keseluruhan.

2. Averaging Down modal rata rata turun dari 1.000 menjadi 824
Jika di modal 1.000 untuk profit +30% harga harus naik 300 Rupiah dari 1.000 ke 1.300 maka di modal rata rata 824 untuk bisa profit +30% harga cukup naik 248 Rupiah menjadi 1.072 (lihat baris 19)
dibutuhkan hanya kenaikan sampai 1.072 untuk bisa profit +30% secara keseluruhan


C. Jika setelah Averaging Up dan Averaging Down harga adalah 1.000 Rupiah
1. Averaging Up (modal rata rata 1.130)
Dengan Averaging Up ketika harga kembali ke 1.000 posisi kita yang seharusnya kembali modal kalau tidak melakukan Averaging Up malah berubah menjadi floating loss -11.47% (lihat baris 9)

2. Averaging Down (modal rata rata 824)
Dengan Averaging Down ketika harga kembali ke 1.000 posisi kita yang seharusnya kembali modal malah berubah menjadi floating Profit +21.36% (lihat baris 20)


D. Jika setelah Averaging Up dan Averaging Down harga adalah 700 Rupiah
1. Averaging Up (modal rata rata 1.130)
Dengan Averaging Up ketika harga kembali ke 700 posisi kita yang awalnya Floating Profit +15.09% , setelah melakukan Averaging Up malah berubah menjadi floating loss -38.03% (lihat baris 6 & 10)

2. Averaging Down (modal rata rata 824)
Sementara dengan Averaging Down, posisi kita di harga 700 Rupiah adalah Floating Loss -15.05% (lihat baris 17)


E. Jika setelah Averaging Up dan Averaging Down harga adalah 1.300 Rupiah
1. Averaging Up (modal rata rata 1.130)
Dengan Averaging Up diharga 1.300 posisi kita adalah Floating Profit +15.09% (lihat baris 6)

2. Averaging Down (modal rata rata 824)
Sementara dengan Averaging Down ketika harga kembali ke 1.300 posisi kita yang awalnya Floating Loss -15.09% , setelah melakukan Averaging Down malah berubah menjadi floating Profit +57.77% (lihat baris 17 & 21)


Mengapa selisih Floating Profit dan Floating Loss nya bisa begitu jauh?


Jawabannya ada di 5.000.000 dan harga beli lagi nya.
Di harga 1.000.000 dengan uang 5.000.000 sama sama bisa mendapatkan 50 Lot
* Dengan uang 5 juta bisa mendapatkan 71 lot di harga 700
* Dengan uang 5 juta hanya bisa mendapatkan 38 lot di harga 1.300
Dapat 71 Lot vs 38 Lot
Ada selisih sampai 33 lot yang didapat dengan uang 5 juta Rupiah.
dan selisihnya adalah sebesar 86.84%


AVERAGING DOWN
Ketika awalnya kita beli 50 lot di harga 1.000 dan kemudian harga turun ke 700 Rupiah.
Saat itu hanya ada 5.000 lembar (50 lot) yang akan turun sebanyak 300 Rupiah selembarnya menuju ke 700.
Setelah kita beli lagi (Averaging Down) 7.100 lembar (71 lot) dan ternyata harga turun lagi -30% (ke 490 Rupiah), Saat itu barulah ada tambahan 7.100 lembar (total 12.100 lembar atau 121 lot) yang kemudian turun bersamaan sebanyak 210 Rupiah lagi.

Tetapi jika setelah kita beli lagi 7.100 lembar (71 lot) di harga 700 dan kemudian harga langsung naik kembali ke 1.000.
Maka saat itu ada tambahan 7.100 lembar (total 12.100 lembar atau 121 lot) yang akan naik bersamaan sebesar 300 Rupiah

5.000 lembar (50 lot) turun -300 Rupiah vs 12.100 lembar (121 lot) naik +300 Rupiah

Ini penting.
di harga 1.000 turun 30% itu artinya turunnya 300 Rupiah
di harga 700 turun 30% itu artinya turunnya hanya 210 Rupiah

Yang membuat turun banyaknya secara nominal adalah jumlah lembarnya bukan harga turunnya
5.000 lembar turun 300 Rupiah = turun 1.500.000
7.100 lembar turun 210 Rupiah = turun 1.491.000
Jadi selanjutnya yang membuat equity kita turun sampai 1.491.000 lagi adalah karena jumlah lembarnya lebih banyak, bukan harganya yang banyak


AVERAGING UP
Tetapi Ketika awalnya kita beli 50 lot di harga 1.000 dan kemudian harga naik ke 1.300 Rupiah.
Saat itu ada 5.000 lembar (50 lot) yang naik sebanyak 300 Rupiah selembarnya menuju ke 1.300.
Jika kita beli lagi (Averaging Up) 3.800 lembar (38 lot) dan harga naik lagi +30% (ke 1.690 Rupiah), Saat itu hanya ada tambahan 38 lembar (total 8.800 lembar 88 lot) yang kemudian naik bersamaan sebanyak 390 Rupiah Lagi.

Tetapi jika setelah kita beli lagi 3.800 lembar (38 lot) di harga 1.300 dan kemudian harga langsung turun kembali ke 1.000.
Maka saat itu ada total 8.800 lembar (88 lot) yang akan turun bersamaan sebesar 300 Rupiah

5.000 lembar (50 lot) naik +300 Rupiah vs 8.800 lembar (88 lot) turun -300 Rupiah

Ini penting.
di harga 1.000 naik 30% itu artinya naiknya cukup 300 Rupiah
di harga 1.300 naik 30% itu artinya turunnya harus 390 Rupiah

Yang membuat naik banyaknya secara nominal adalah Harga naiknya bukan jumlah lembarnya
5.000 lembar naik 300 Rupiah = naik 1.500.000
3.800 lembar turun 390 Rupiah = naik 1.482.000
Jadi selanjutnya yang membuat equity kita naik sampai 1.482.000 lagi adalah karena harganya yang naik lebih banyak, bukan lembar sahamnya yang banyak

Beginilah kira kira mengapa gue hampir gak pernah ngomongin yang namanya Averaging Up.
Di bursa ada 600+ emiten, hampir setiap saat pasti ada emiten yang menjadi murah karena harga sudah turun (entah alami atau disengaja) banyak. Mengapa justru memaksakan diri membeli emiten yang sedang naik (Averaging Up)?

600+ Emiten, jika setiap emiten kita beli 10 juta rupiah saja, maka total total kita harus siapkan duit 6 Miliar baru bisa memiliki 600 emiten, itupun masing masing cuma 10 juta rupiah.

About Kakdr 240 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*