Site icon KakdrWay

Di diamkan (anggap sudah gak ada)

Gue sering bilang turun itu ada maksimal nya
yaitu 100% (habis semua)
Dan ini adalah contohnya

Porto MNC almarhum mertua gue ini adalah porto yang sejak gue pegang gak pernah top up

Emiten emiten didalamnya pun adalah emiten non dividen

Jadi setelah mengalami penurunan sejak tahun (kurang lebih) 2013 sampai 30 juli 2018 (tanggal terakhir gue update Porto)

Ternyata sudah merupakan penurunan paling dalamnya…

Artinya kemungkinan terjadi penurunan sudah tidak ada sehingga kemungkinan yang tersisa hanya 2 yaitu
Diam di tempat
Naik kembali (ini yang terjadi)

Tutup tahun 2021 total aset value sudah naik menjadi 204jt
atau sejak 2018 sudah terjadi pertumbuhan sebesar 204/166 = 22.8%

Ada turun pasti ada naik
Ada turun dalam juga pasti ada naik tinggi…

Tahun 2022 total aset value naik menjadi 282 juta
atau dalam 1 tahun terjadi pertumbuhan sebesar 282/204 = 38.2%

Nah jika tahun 2018 sampai 2021 (4 tahun) hanya bisa tumbuh 22.8%
Tetapi tahun 2021 sampai 2022 (1 tahun) bisa tumbuh 38.2%

Kalau kita sanggup tahan floating loss sampai 25%
Maka seharusnya kita juga harus sanggup tahan sampai floating profit minimal 25% atau 50% baru di realisasikan keuntungan nya

Modal awal (tahun 2013) 332 juta
Total Aset Value akhir (tahun 2022) 282jt

atau selama 10 tahun mengalami kerugian sebesar 282/332 = 15%

gak habis kan?
walaupun isi emiten didalamnya kita bisa liat sendiri adalah emiten emiten yang uda nohope

jadi kalau kita uda keburu nyangkut dalam…
Uda floating loss lebih dari 50%

ya uda sekalian adu nasib aja
habis semua atau balik modal

Karena dengan cut loss kerugian 50% artinya selanjutnya hanya untuk kembali modal sisa uang harus bisa untung 100%
untung 100% hanya untuk kembali modal

Kebanyakan akan berpikir
gak apa apa gue cut loss supaya bisa dibelikan saham lain yang lebih prospek memberikan keuntungan
Selama mindset dan metode beli saham nya tidak kita ubah, mau beli saham apapun hasil akhirnya duit tersebut akan habis

Kita bisa lihat secara statistik 80% pendatang baru akan kehabisan modal nya
padahal beli saham itu cuma antara untung atau rugi
Artinya probabilitas untung dan rugi itu adalah sama yaitu 50% vs 50%

Tapi kenapa realita nya yang rugi bisa sampai 80%?

Ini adalah karena metode (yang sudah terbukti salah) nya tidak di ubah
Jadi walaupun emiten nya gonta ganti, tetapi dengan metode pemilihan yang sama… hasilnya akan tetap sama

Kalau kita membeli 1.000 lembar saham di harga 1.000 dan kemudian harganya turun ke 500

Maka ketika di beli di harga 1.000
1.000 lembar saham itu membutuhkan uang sebesar 1.000.000

Kalau di harga 500 kita beli lagi 1.000 lembar
Maka 1.000 lembar yang baru kita beli hanya membutuhkan uang sebesar 500.000

Kalau kemudian turun lagi ke 250
Maka sekarang 1.000 lembar hanya membutuhkan uang sebesar 250.000

Kalau turun lagi ke 125
Maka 1.000 lembar sekarang cuma membutuhkan uang sebesar 125.000

Kalau turun lagi ke 62
Maka 1.000 lembar sekarang cuma membutuhkan uang sebesar 62.000

1.000.000 + 500.000 + 250.000 + 125.000 + 62.000 = 1.937.000
Uda bisa dihitung kan…
paling banyak duit yang bisa hilang adalah 1.937.000

Kalau maksimal total uang yang hilang adalah 1.937.000 tentu kita semua sanggup hilang

Tapi kalau 193.700.000
tentu sudah banyak yang kalah mental

Atau 1.937.000.000
ini pasti sudah tinggal segelintir yang sanggup hilang

Jadi masalahnya bukan di saham nya (kecuali delisting) tapi duitnya berapa?

Exit mobile version