Esok itu Mistery – Harga itu Jangan Ditebak, tetapi Diantisipasi

Hari ini gue mendapatkan email notifikasi dari Indopremier yang menginformasikan kalau GTC SDPC gue di harga 100 rupiah berhasil didapat.

SDPC yang tanggal 8 January kemarin baru gue realisasikan keuntungannya sebesar 51% seperti yang gue cerita di artikel Mental dan Mantul (Buy Lower Sell Higher) hanya dalam 14 hari sudah berhasil gue beli kembali (buyback) di harga 100 Rupiah.

SDPC yang gue beli seharga 106 Rupiah di bulan Maret 2019 boleh dibilang selalu dalam posisi Floating Loss (nyangkut) sejak dibeli. Tetapi mendadak memasuki 2020 harga SDPC naik tinggi sampai memungkinkan gue untuk merealisasikan keuntungan (Take Profit) sebesar 50% atas sebagian dari lot yang gue miliki.
Biasanya realisasi keuntungan gue bagi 2X jual. Yaitu separoh dijual dengan keuntungan 50% dan sisa separohnya dijual ketika mencapai keuntungan 100%.

Ketika dijual di harga 160 saat itu, posisi gue adalah merealisasikan keuntungan berupa rupiah sebesar 51% plus sebagian modal kembali.
Modal kembali, keuntungan didapat, tetapi konsekuensinya gue kehilangan sebagian lot yang tadinya dimiliki.

Hari ini ketika gue beli kembali di harga 100 rupiah, itu artinya gue mendapatkan kembali lot yang terjual dengan harga 60 Rupiah (37.5%) lebih murah plus tahun 2020 ini jika SDPC kembali membagikan dividen, gue akan mendapatkan lagi dividen atas lot yang terjual sebelumnya.

Jual 160 Rupiah, Beli kembali 100 Rupiah.
Artinya ada selisih 60 Rupiah.
60 Rupiah ini kita bisa anggap sebagai:
* Ngesot (yang berakhir indah) ala KakdrWay, kalau di pasar modal dikenal dengan istilah sort, sementara gue menggunakan istilah ngesot. Apa bedanya? kalau sort itu dilakukan tanpa memiliki barang yang artinya mengandung resiko. Sementara ngesot itu dilakukan dengan posisi memang memiliki barang dan sudah dalam posisi untung.
* Dividen (durian) runtuh sebesar 60% (rumus 60 / 100 * 100%)
* Faktor menurunkan modal, Jika awalnya modal SDPC gue adalah sebesar 105 maka jika 60 rupiah tersebut kita anggap untuk menurunkan modal, modal SDPC gue sekarang tinggal sebesar 45 Rupiah (rumus 105 – 60)
* Buyback ala Kakdrway seperti pada artikel Buy – TePe – Buyback

Terserah kita mau pilih yang mana. Gue pribadi lebih suka menganggapnya sebagai Buyback. Mengapa?

Sebagai seorang yang menganut sistem Averaging Down, selisih sebesar 60 Rupiah per lembar ini bisa dimanfaatkan jika ternyata kedepannya harga SDPC malah terus turun.
Jika modal awal gue adalah sebesar 105 Rupiah, artinya di harga 73 Rupiah gue harus melakukan averaging down.
A. Jika di awal gue membeli sebanyak 100 lot SDPC seharga 105 Rupiah, itu artinya total uang yang gue keluarkan untuk membeli 100 Lot SDPC itu adalah sebesar 1.050.000 Rupiah.
B. 50 Lot yang gue jual di harga 160 Rupiah dan kemudian buyback di 100 Rupiah, artinya ada selisih uang sebesar 300.000 Rupiah (keuntungan)
C. sehingga jika gue harus Averaging Down lagi di harga 73 Rupiah sebanyak 1.050.000 Rupiah dengan mengambil keuntungan 300.000 Rupiah gue tinggal butuh tambah modal sendiri sebanyak 750.000 Rupiah kan?

SDPC adalah emiten yang rutin membagikan dividen, inilah alasan gue membeli nya saat itu disamping alasan pisau jatuh, PBV, DER dan ROE seperti standard Syarat & Strategi Dasar Pemilihan Emiten ala KakdrWay.
Jika sampai harus averaging down, itu artinya pisau sudah jatuh semakin dalam, lot yang kita dapatkan semakin banyak, dan dividen yield yang kita akan peroleh juga menjadi semakin besar.

Lalu mengapa gue pasang GTC buyback di 100 Rupiah bukan di 112 Rupiah (160 turun 30%) seperti yang biasa gue lakukan?
Alasan utamanya kali ini adalah tahun 2020 ini ada cukup banyak emiten yang turun dalam. Banyaknya emiten yang turun harga secara otomatis membuat banyak emiten yang menjanjikan dividen yield lebih menarik.
Karena alasan inilah akhirnya gue memutuskan untuk menawar lebih banyak, bukan turun 30% lagi tetapi turun 37.5%
Kalau sampai gak dapat ya sudah, duitnya bisa gue belikan saham lain yang menjanjikan dividen yield lebih besar.

Lalu bagaimana gue bisa tau kalau harga 100 itu bisa dapat?
jawabannya adalah:
Gue gak tau…

Esok itu Mistery,

Tanggal 8 January 2020 Jual di 160 Rupiah,
Tanggal 22 January 2020 Buyback di 100 Rupiah ,
Cuan 60 Rupiah atau 60% hanya dalam 14 hari
Siapa yang bisa tahu?

Esok itu Mistery
kita hanya bisa menebak dan mengira ngira berdasarkan probabilitas.
“Kayaknya bisa dapat nih”
Tetapi bisa dapat atau tidak, besok lusa yang akan menjawabnya.
Harga itu jangan ditebak, tetapi diantisipasi. Kalau sampai salah gimana? ini yang paling penting.

Kembali lagi gue mau kasih bukti mengenai Banyak Emiten Banyak Kesempatan. Tanggal 20 January kemarin gue baru merealisasikan keuntungan PBSA sebesar 61% seperti pada artikel Harta & Harga , Teori dan Prakteknya

Paman bibi kira kira bisa kan membayangkan besarnya efek Mental dan Mantul (Buy Lower Sell Higher)

ps. Jika Paman / Bibi merasa artikel bermanfaat dan tidak berkeberatan kiranya sudi untuk subscribe Youtube Channel D-R Original
Terima kasih sebelumnya

About Kakdr 238 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*