Harta & Harga , Teori dan Prakteknya.

Hari ini gue berhasil merealisasikan Take Profit (TP) 50% ke dua tahun 2020 setelah TP yang pertama yaitu SDPC (bisa dibaca disini)

Hari ini juga berketepatan IHSG turun cukup dalam, yang sepertinya dipengaruhi oleh sentimen beberapa MI yang mengalami kerugian cukup besar, tapi menurut gue sih bukan. Kerugian MI itu hanyalah trigger / momentum. Karena keadaan sebenarnya dunia dagang memang sangat sepi. Tapi itu kita gak usah bicarakan deh karena kita sebagai retail juga tidak tahu persis sebenarnya apa yang membuat IHSG turun terus sejak awal 2020.

Artikel ini adalah membahas bagaimana realita praktek dari ajakan Ayo Berkebun (Nabung) Saham – ANS untuk memperbesar probabilitas seperti pada artikel Banyak Emiten Banyak Kesempatan.
Setiap hari dalam keadaan seperti apapun IHSG, tetap ada sedikit saham yang naik diantara banyaknya saham yang turun atau tetap ada sedikit saham yang turun diantara banyaknya saham yang naik.

Harga naik turun itu wajar, sejak jaman dahulu kala begitulah harga. Sesuai hukum dasar ekonomi, Harga akan naik jika penawaran lebih kecil dari permintaan dan harga akan turun jika penawaran lebih besar dari permintaan. Jadi kalau mau beli barang tunggulah ketika penawaran nya lebih besar, ketika mau jual barang tunggulah ketika penawaran nya lebih kecil.

Demikian pun dengan portofolio kita.
Ketika IHSG lagi turun banyak, lihat apakah ada saham kita yang bisa direalisasikan keuntungannya supaya kita bisa beli saham yang sedang turun banyak. Jangan malah jual saham yang posisi rugi untuk beli saham lain.

Misalnya deh di porto kita sekarang ada 3 emiten, yaitu PBSA , AAAA & BBBB.
Dimana dari harga beli & harga sekarang, secara total (lihat baris 5) kita mengalami kerugian sebesar 3.872.500 JIKA kita realisasikan semuanya.
Tetapi harus dilihat, bahwa secara total memang rugi, tetapi ada 1 saham yang sudah untung dari total 3 saham.

Satu hal yang gue terus ingatkan adalah, bedakan antara Harta dan Harga. Apa yang terjadi dengan harga itu diluar kuasa kita sebagai retail karena kekuatan permintaan vs penawaran lah yang menentukan nilainya. Tetapi apa yang terjadi dengan Harta itu sepenuhnya berada di tangan kita masing masing.

Awalnya kita memiliki Harta sebesar 29.997.500 Rupiah (ingat, harta kita awalnya berupa rupiah) yang kemudian kita belikan 215 Lot PBSA di harga 465 , 100 Lot AAAA di harga 1.000 dan 100 Lot BBBB di harga 1.000.
Setelah membeli, maka saat itu harta kita telah berubah dari 29.997.500 menjadi 415 Lot saham PBSA, AAAA & BBBB (ingat, harga kita sekarang telah berubah menjadi 415 lot)

Nah dalam ilustrasi, jika kita lihat secara terpisah, maka akan terlihat :
A. 215 Lot PBSA sudah untung 6.127.500, Modal awal 465 (total modal 9.997.500) sekarang harga sudah naik jadi 750 (Total 16.125.000) jika kita jual.
B. 100 Lot AAAA rugi 5.000.000, Modal awal harga 1.000 (total modal 10.000.000) sekarang harga tinggal 500 (total 5.000.000) jika kita jual.
C. 100 Lot BBBB rugi 5.000.000, Modal awal harga 1.000 (total modal 10.000.000) sekarang harga tinggal 500 (total 5.000.000) jika kita jual.

Satu hal yang harus diingat adalah:
* AAAA dan BBBB yang awalnya rugi maksimalnya adalah sebesar 10.000.000 sekarang sudah turun menjadi 5.000.000.
* Sementara PBSA yang awalnya rugi maksimal adalah sebesar 10.000.000 sekarang rugi maksimalnya naik menjadi 15.000.000
Harga turun itu ada maksimalnya yaitu ke NOL, sementara untuk naik tidak ada maksimal nya jika naik.

ilustrasi A
ilustrasi B

Jika kita menjual seluruh PBSA, maka kita akan mendapatkan uang sebesar 16.125.000 yang jika kita belikan AAAA dan BBBB masing masing sama besar porsinya, maka kita bisa membeli AAAA dan BBBB masing masing sebanyak 161 Lot.

Coba perhatikan Kolom M3 dan M4 dari ilustrasi A & B
Pada ilustrasi A Total Harta kita untuk membeli seluruh portofolio kita adalah sebesar 29.997.500 tetapi pada ilustrasi B nilainya sudah naik menjadi 36.125.000. Terjadi kenaikan sebesar 6.127.500 dari realisasi keuntungan.
* 36.125.000 itu adalah Harta
* 26.100.000 itu adalah Harga

Sekarang coba kita bandingkan dengan jika kita cut loss AAAA dan BBBB untuk membeli lagi PBSA.

Jika kita menjual seluruh AAAA & BBBB, maka kita hanya akan mendapatkan uang sebesar 10.000.000 (modal 20.000.000) yang jika kita belikan PBSA seluruhnya, maka kita bisa sebanyak 133 Lot.
Awalnya uang sebesar 9.997.500 bisa mendapatkan 215 Lot PBSA, sekarang dengan 10.000.000 hasil cut loss hanya bisa mendapatkan 133 Lot.

Coba perhatikan Kolom M3 dan M4 dari ilustrasi A & B
Pada ilustrasi A Total Harta kita untuk membeli seluruh portofolio kita adalah sebesar 29.997.500 tetapi pada ilustrasi B nilainya malah turun menjadi 19.997.500. Terjadi penurunan sebesar 10.000.000 dari realisasi kerugian.
* 19.997.500 itu adalah Harta
* 22.800.000 itu adalah Harga

Jika kita menjual PBSA dan dibelikan AAAA & BBBB memang terlihat kita mengalami posisi floating loss sebesar 10.000.000 atau -27.70%, Tetapi posisi harta kita untuk membeli seluruh isi portofolio kita terjadi kenaikan dari 29.997.500 menjadi 36.125.000. Naik sebesar 6.127.500 atau +20.42%
* Floating Loss -27.70% tetapi Harta naik +20.42%

Beda dengan jika kita menjual AAAA & BBBB untuk dibelikan PBSA, pada saat itu terlihat kita mengalami posisi floating profit sebesar 30.68% tetapi posisi harta kita untuk membeli seluruh isi portofolio kita malah terjadi penurunan dari 29.997.500 menjadi 19.972.500. Turun sebesar -33.41%
* Foating Profit +30.68% tetapi Harta turun -33.41%

Naik turunnya harga di luar kuasa kita, tetapi naik turunnya harta sepenuhnya berada pada keputusan kita.

Harga itu ilusi, Harta itu Real.

Ketika emiten memutuskan untuk membagikan dividen sebesar X Rupiah misalnya. Maka tidak peduli kemudian harga mau naik atau turun, kita tetap akan memperoleh dividen sebesar X Rupiah dikali jumlat lot yang kita miliki.

Yang naik turun itu harganya, bukan lotnya.

Kenaikan harga pasti diiringi dengan kenaikan resiko harga akan turun kembali (probabilitas turun menjadi lebih besar), juga diiringi dengan dividen yield yang turun, dan PBV naik.

Turunnya harga pasti diiringi dengan turunnya resiko harga akan turun kembali (probabilitas naik menjadi lebih besar), juga diiringi dengan dividen yield yang naik, dan PBV turun.

Ingat!!! selama emiten yang kita beli sudah benar.
Baca : Analisa Cepat ala KakdrWay bagi Pemula

About Kakdr 240 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

4 Comments

  1. Sangat mencerahkan sekali, Koko. Yang begini-begini ini yang musti banyak saya baca dan pelajari, supaya kali lain porto merah membara nggak pusing lagi. Bakal selalu saya ingat, harga itu ilusi dan harta itu real. Lalu kuncinya adalah milih emiten yang benar.

    Terima kasih banyak.

Leave a Reply to Kakdr Cancel reply

Your email address will not be published.


*