Paman, bolehkan jika saya Averaging Down tidak di -30% tapi di -25% atau -20%

Seringkali gue mendapatkan pertanyaan seperti ini,
Jawabannya adalah BOLEH, selama lu yakin sanggup melanjutkan averaging down jika ternyata harga turun sangat dalam tanpa kehabisan kemampuan untuk averaging down.

Alasan dari Averaging Down setiap turun 30% dari harga beli terakhir seperti Strategi Dasar AVG & TP ala KakdrWay adalah besaran persentase yang bisa kita dapatkan ketika Take Profitnya.
Angka sebenarnya adalah Averaging Down setiap turun 34% dari harga beli terakhir.
Mengapa?

Tujuan dari Averaging Down setiap turun 30% dari harga beli terakhir (tepatnya adalah -34%) adalah kita bisa merealisasikan keuntungan sampai 50% jika setelah di averaging down, harga naik kembali ke harga sebelumnya.

Coba perhatikan ilustrasi diatas.
I. Averaging Down setiap turun 30% (tepatnya -34%)
Jika kita membeli biang (pembelian pertama kali) di harga 1.000 dan Averaging Down (pembelian kedua) di harga 660 (turun 34% dari 1.000) lalu kemudian harga naik kembali ke 1.000 Rupiah,
Maka di harga 1.000, Averaging Down kita di harga 660 sudah memberikan kita realisasi keuntungan sebesar 50% jika kita jual (bersih sudah potong pajak jual beli). Sementara posisi kita untuk pembelian pertama di harga 1.000 sudah pada posisi kembali modal.

II. Averaging Down setiap turun 25%
Jika kita membeli biang (pembelian pertama kali) di harga 1.000 dan Averaging Down (pembelian kedua) di harga 750 (turun 25% dari 1.000) lalu kemudian harga naik kembali ke 1.000 Rupiah,
Maka di harga 1.000, Averaging Down kita di harga 750 hanya bisa memberikan kita realisasi keuntungan sebesar 32,69% jika kita jual (bersih sudah potong pajak jual beli). Sementara posisi kita untuk pembelian pertama di harga 1.000 sudah pada posisi kembali modal.

III. Averaging Down setiap turun 20%
Jika kita membeli biang (pembelian pertama kali) di harga 1.000 dan Averaging Down (pembelian kedua) di harga 800 (turun 20% dari 1.000) lalu kemudian harga naik kembali ke 1.000 Rupiah,
Maka di harga 1.000, Averaging Down di harga 800 hanya bisa memberikan kita realisasi keuntungan sebesar 24,44% jika kita jual (bersih sudah potong pajak jual beli). Sementara posisi kita untuk pembelian pertama di harga 1.000 sudah pada posisi kembali modal.

Jika di awal (harga 1.000) kita membeli sebanyak 10 juta rupiah (dapat 100 Lot) maka:
I. Averaging Down setiap turun 30% (tepatnya -34%)
Diharga 660 dengan 10 juta rupiah lagi kita bisa mendapatkan 152 lot yang artinya jika kita kemudian harus tahan dalam waktu cukup panjang, 152 lot yang didapatkan dari 10jt rupiah tersebut jika kemudian emiten memutuskan membagikan dividen, maka kita akan mendapatkan dividen dikalikan 152 lot dikalikan 100 lembar

II. Averaging Down setiap turun 25%
Diharga 660 dengan 10 juta rupiah lagi kita hanya mendapatkan 134 lot (18 Lot lebih sedikit) yang artinya jika kita kemudian harus tahan dalam waktu cukup panjang, 134 lot yang didapatkan dari 10jt rupiah tersebut jika kemudian emiten memutuskan membagikan dividen, maka kita hanya mendapatkan dividen dikalikan 134 lot dikalikan 100 lembar

III. Averaging Down setiap turun 20%
Diharga 660 dengan 10 juta rupiah lagi kita hanya mendapatkan 125 lot (27 Lot lebih sedikit) yang artinya jika kita kemudian harus tahan dalam waktu cukup panjang, 125 lot yang didapatkan dari 10jt rupiah tersebut jika kemudian emiten memutuskan membagikan dividen, maka kita hanya mendapatkan dividen dikalikan 125 lot dikalikan 100 lembar

Ini semua berkaitan dengan hitungan matematika & daya tahan portofolio kita jika terjadi guncangan pada IHSG seperti yang terjadi akhir akhir ini.
baca : Matematika – A Turun ke X & X Naik ke A

Ada 600+ emiten di bursa, dari 600+ emiten itu ada 143 Emiten rutin Dividen
Jika 143 emiten tersebut kita belikan masing masing 10 juta saja, maka total kita membutuhkan 1.400.000.000 Rupiah belum termasuk jika sampai harus averaging down.
Jadi yang kita fokuskan disini adalah kualitas take profitnya, bukan kuantitas take profitnya.
*Jika kita bisa merealisasikan 50% keuntungan dalam 1X take profit (kualitas), maka kita hanya perlu mengeluarkan biaya jual beli sebanyak 1X
*Tapi jika 50% keuntungan harus kita realisasikan dalam 10X take profit (kuantitas), maka biaya jual beli yang perlu kita keluarkan adalah sebanyak 10X

Jika kita bisa merealisasikan keuntungan 50% atas 2 emiten (AAAA & BBBB), maka dengan uang tersebut, kita bisa belikan 3 emiten baru (CCCC, DDDD & EEEE) masing masing sebanyak 10 juta rupiah.
*perhatikan EEEE bisa dapat 100 lot di harga 1.000

Tetapi jika kita hanya merealisasikan keuntungan 25% atas AAAA & BBBB misalnya, maka dengan uang yang kita miliki, kita hanya bisa membeli 50 lot EEEE di harga 1.000

Sekarang kita bicara resiko, selain menjanjikan keuntungan ganda (Capital Gain & Dividen Gain) kita juga menghadapi resiko tinggi di saham.
Bahkan emiten sekelas HMSP GGRM dan beberapa superchips lain bisa turun sampai separoh tanpa alasan yang jelas.
Oleh karena itu perencanaan lah yang paling penting, bukan ilmu hitung valuasi atau ilmu tarik garis. Tapi adalah bagaimana memastikan kita tidak kehabisan napas dulu dalam perjalanan mencapai tujuan kita.

Averaging Down setiap turun 34%
Averaging Down setiap turun 25%
Averaging Down setiap turun 20%

3 Ilustrasi terakhir adalah hitungan berapa kali kita harus averaging down di -34% , -25% dan -20% jika kita mulai membeli dari harga 1.000 dan ternyata harga jatuh sampai 50 Rupiah.
seberapa besar perbandingan resiko dari -34% , -25% dan -20%

Jika kita mulai membeli dari harga 1.000 sebanyak 2 juta Rupiah dan memutuskan untuk averaging down setiap turun X% dengan nominal yang sama, maka:

I. Averaging Down -34% dari 1.000 turun sampai 50 Rupiah
* Dibutuhkan 1X Pembelian Awal & 7X (total 8X beli) Averaging Down dengan total modal yang kita keluarkan adalah sebesar 16.1 juta sudah termasuk fee beli.
16.1jt inilah yang akan menjadi resiko maksimal kita jika kemudian emiten tesebut sampai delisting.
*lihat ilustrasi

II. Averaging Down -25% dari 1.000 turun sampai 50 Rupiah
* Dibutuhkan 1X Pembelian Awal & 10X (total 11X beli) Averaging Down dengan total modal yang kita keluarkan adalah sebesar 22.1 juta sudah termasuk fee beli.
Perhatikan: hanya dengan averaging down selisih 9% (AVG -34% menjadi AVG -25%) modal yang harus kita siapkan meningkat sampai 37%+ (dari 16.1jt menjadi 22.1jt)
22.1jt inilah yang akan menjadi resiko maksimal kita jika kemudian emiten tesebut sampai delisting.
*lihat ilustrasi

III. Averaging Down -20% dari 1.000 turun sampai 50 Rupiah
* Dibutuhkan 1X Pembelian Awal & 13X (total 14X beli) Averaging Down dengan total modal yang kita keluarkan adalah sebesar 28.6 juta sudah termasuk fee beli.
Perhatikan: hanya dengan averaging down selisih 14% (AVG -34% menjadi AVG -20%) modal yang harus kita siapkan meningkat sampai 77%+ (dari 16.1jt menjadi 28.6jt)
28.6jt inilah yang akan menjadi resiko maksimal kita jika kemudian emiten tesebut sampai delisting.
*lihat ilustrasi

Lalu apakah ini artinya Averaging Down setiap turun 34% yang paling baik?

Tidak!!!

Mana yang paling baik semua kembali ke ketebalan dompet kita masing masing, kembali ke profil resiko kita masing masing, kembali ke seberapa besar kita sanggup JIKA sampai ternyata investasi kita tidak menghasilkan tetapi malah mati.

Tahu apa yang sedang kita lakukan.
Lakukan apa yang kita tahu.

Hitung dulu sebelum beraksi,
Harus sampai tujuan jika sudah beraksi.

Do your best and let God do the rest

About Kakdr 240 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*