lanjutan dari THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 4) – by Bluerider2000
atau baca dari awal
POSITIVE ROE: WONDERFUL BUSINESS VS SO-SO BUSINESS
Dalam berinvestasi saham, kebanyakan investor selalu menyarankan untuk berinvestasi pada perusahaan yang bagus. Salah satu pendapat Warren Buffett yang sering dikutip orang menjelaskan hal ini : “ it’s better to buy a wonderful business at a fair price than a fair business at a wonderful price.”
Pertanyaannya kemudian, apa yang di sebut bisnis yang luar biasa (wonderful business) tersebut? atau bagaimana kita mengetahui mana bisnis yang luar biasa dan mana yang tidak?
Terkait dengan serial tulisan “the beauty of encek glodok” ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa diteruskan lagi. Pertama, apa hubungan pengetahuan tentang bisnis yang luar biasa ini dengan salah satu basic strategi dari Kakdr way yang berupa ROE yang positif (ROE>0)?
Kedua, kenapa basic strategi kakdr way lebih memilih untuk mencari saham-saham dari perusahaan yang cenderung biasa-biasa saja (so-so businesses) dan bukan perusahaan yang luar biasa (wonderful company)?
Tulisan ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut satu per satu. Diskusi pada tulisan ini akan diawali dengan pembahasan singkat mengenai apa itu bisnis yang luar biasa.
Selanjutnya, diskusi akan lebih difokuskan pada salah satu strategi kakdr way, yaitu memilih bisnis yang umumnya tergolong biasa-biasa saja dan mengapa pilihan tersebut juga bisa menghasilkan keuntungan yang baik.?
Suatu bisnis dilihat luar biasa atau tidak itu dilihat dari sudut pandang owner/pemilik bisnis tersebut. Menurut Buffett perusahaan yang luar biasa adalah perusahaan yang dapat memberikan tingkat pengembalian/imbal hasil (return) yang baik bagi pemiliknya.
Dengan kata lain, bisnis yang dapat melipat gandakan (compound) uang dari pemilik dengan tingkat yang cepat. Berdasarkan hal tersebut maka luar biasa atau tidaknya perusahaan dapat dilihat dari tingkat ROE (Return to equity) dari perusahaan tersebut.
Oleh karena itu, menjadi suatu hal yang wajar jika hanya ada satu metrik/indikator saja yang dapat dipakai untuk menemukan perusahaan yang luar biasa, metrik ROE menjadi pilihan utamanya.
Kenapa demikian? Begini penjelasan sederhananya.
Pada intinya, apa yang terjadi pada sebuah bisnis itu adalah seperti ini. Para memilik usaha menaruh uangnya ke dalam usaha tersebut. uang tersebut biasa disebut modal atau equity/capital.
Modal ini selanjutnya “diinvestasikan” dan digunakan untuk membangun pabrik, kantor, beli mesin, aktivitas R&D untuk sebuah produk baru, dan lain-lain.
Seiring berjalannya waktu, investasi tersebut akan menghasilkan pendapatan dan keuntungan untuk usaha tersebut. Keuntungan tersebut selanjutnya didistribusikan kembali kepada para pemilik sebagai dividen.
Para pemilik hanya akan memperoleh keuntungan ketika mereka menerima dividen dari usahanya melebihi modal yang telah mereka tempatkan pada usaha tersebut.
Ide dasarnya adalah menggunakan perusahaan tersebut sebagai sebuah “kendaraan” yang dapat mengubah Rp1 dari modal yang diinvestasikan menjadi dividen sebesar Rp2.
Di sini, lamanya waktu juga merupakan faktor penting yang harus diperhitungkan. Contohnya, jika sebuah usaha mampu mengubah Rp1 dari modal menjadi dividen Rp2 dalam waktu hanya 3 tahun, bisnis tersebut berarti bisnis yang sangat menguntungakan, dengan tingkat pengembalian (return) sebesar 26% per tahun.
Namun, usaha tersebut butuh waktu 10 tahun untuk mengubah modal Rp1 menjadi dividen Rp2 yang sama. Itu artinya hasil yang didapatkan oleh pemilik akan lebih buruk, karena imbal hasil pertahunnya hanya kira-kira 7% saja.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka bisa disimpulkan salah satu ciri utama yang membedakan perusahaan yang luar biasa bagus dengan yang biasa-biasa saja/jelek adalah perusahaan yang luar biasa bagus memiliki tingkat pengembalian imbal hasil yang tinggi dari modal yang ditanamkan oleh pemillik di perusaha tersebut.
Namun demikian, penting untuk diingat bahwa tingkat imbal hasil yang tinggi atas modal yang telah ditanamkan oleh pemilik BUKAN SATU-SATUNYA faktor yang menentukan perusahaan tersebut itu sebuah usaha yang luar biasa bagus.
Sebuah usaha adalah entitas yang berkesinambungan. Perusahaan tidak hanya merubah Rp1 modal pemilik untuk menjadi Rp2 dan lalu selesai dan menutup usahanya. Proses tersebut dilakukan berkali-kali dan sepanjang hidup perusahaan.
Bukannya langsung membagikan seluruh hasil keuntungan Rp2 kepada pemilik sebagai dividen, perusahaan biasanya membagikan hanya sebagian dari keuntungan tersebut, misalnya Rp0.5.
Sisa Rp1.5 tetap diperusahaan untuk investasikan kembali (“reinvested)” ke dalam bisnis untuk membangun pabrik baru, mengembangkan produk baru atau lainnya. Keuntungan yang ditahan tersebut biasa dikenal dengan istilah “retained earning” (laba ditahan). Laba ditahan ini ditujukan agar dapat memperoleh pendapatan dan profit lebih banyak lagi.
Selanjutnya hal ini diharapkan mendapatkan lebih banyak lagi dividen untuk pemilik, laba ditahan, dan reinvestasi yang selanjutnya akan meningkatkan pendapatan profit yang lebih besar lagi. Begitu terus berulang-ulang.
Hal ini lah yang menjadi salah satu ciri lain yang membedakan usaha yang luar biasa dengan usaha yang biasa-baiasa saja (so-so bisnis). Selain memiliki tingkat pengembalian modal yang tinggi, perusahaan yang luar biasa adalah usaha-usaha yang memiliki “reinvestment runaways” yang panjang.
Dengan kata lain, perusahaan tersebut dapat menahan dan menginvestasikan sebagian besar dari profitnya ke dalam perusahaan tapi tetap dapat menghasilkan imbal hasil yang tetap tinggi. Jadi, perusahaan yang berkualitas luar biasa adalah perusahaan yang memiliki ROE atau ROIC yang besar dan juga retained earning yang besar secara konsisten dan berkelanjutan.
Kalau perusahaan yang baik adalah perusahaan yang memiliki ROE dan retained earning yang besar dan konsisten, kenapa kakdrway tidak memilih yang seperti itu?
Kenapa encek glodok lebih memilih perusahaan yang cukup ROE-nya positif saja dan malah senang kalau perusahaan tersebut membagikan dividen, dan bukannya menahan profitnya untuk diinvestasikan kembali?
Mau tahu jawabannya? Tunggu lanjutan tulisan “the beauty of encek glodok: the series” ini berikutnya.
Stay tuned… Tabik
POSITIVE ROE: WONDERFUL BUSINESS VS SO-SO BUSINESS (A Sequel)
Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan dua ciri utama dari perusahaan yang luar biasa (wonderful companies). Pertama adalah perusahaan yang memiliki tingkat imbal hasil yang tinggi dari modal yang diinvestasikan. Kedua adalah perusahaan yang menginvestasikan sebagian besar dari profitnya ke dalam perusahaan tapi tetap dapat menghasilkan imbal hasil yang tetap tinggi.
Berbeda dengan kriteria tersebut, kakdr way malah seringkali memilih perusahaan yang biasa-biasa saja. Salah satu kriteria encek glodok hanya mensyaratkan ROE>0 untuk perusahaan-perusahaan yang akan menjadi target.
Kenapa begitu? Kenapa Om Dharta hanya memberikan syarat yang rendah, dan bukannya memilih perusahaan yang luar biasa (wonderful companies) sebagaimana layaknya dilakukan oleh kebanyakan investor, khususnya mereka yang mengidolakan Warren Buffet?
Jawaban singkatnya, si encek glodok adalah seseorang yang bertype contrarian. Dia bukanlah orang yang senang “membebek” gaya orang lain. Dia sadar, kalau dirinya berbeda kemampuannya dengan orang lain. Dia lebih memilih untuk mencari dan menjalankan gaya investasinya sendiri, yang sesuai dengan karakter dan kemampuan personalnya.
Gaya investasinya, bukanlah gaya investasi yang dia dapat dari textbook. Gaya investasi itu dia peroleh dari pengalaman hidupnya yang panjang “dijalanan” sebagai marketer dan pengalaman investasinya selama ini.
Tapi apakah pilihan tersebut hanya berdasarkan yang penting beda? Apakah yang beda tersebut bisa menghasilkan keuntungan? Apakah cara tersebut memiliki dasar yang logis? Dari pada mencoba-coba sesuatu yang beda, bukankah lebih baik mengikuti saja cara Warren Buffet yang sudah terbukti menguntungkan?
Jawaban dari berbagai pertanyaan tersebut, sebenarnya secara sekilas sudah diutarakan dalam tulisan-tulisan sebelumnya dari serial “the beauty of encek glodok: the series”. Dari historis dan postingan update porto tiap minggu yang kakdr post di SB sudah terlihat bahwa gaya dan sistem investasi kakdrway, tiap tahun selalu lebih baik dibandingkan IHSG.
Sebagaimana telah juga dijelaskan pada tulisan-tulisan terdahulu, kriteria yang ditetapkan dalam kakdr way juga sebenarnya sangat logis dan beberapa juga sama dengan apa dilakukan oleh para investor besar lain.
Demikian juga dengan kriteria ROE>0 yang ditetapkan oleh Kakdr kali ini juga sebenarnya sangat logis. Walaupun kriteria ini berbeda sekali dengan kriteria investor-investor lain yang mengikuti Warren Buffet yang biasanya menentapkan ROE>15%, kriteria ini sebenarnya juga memiliki dasar pijakan logika yang masih dapat diterima.
Secara teknis, hal ini masuk akal karena dengan memilih strategi investasi deep value investing dengan PBV<1, memang jarang sekali bisa mendapatkan perusahaan-perusahaan yang luar biasa atau ROE tinggi (ROE>15). Namun, walaupun begitu kakdr tidak sembarangan beli/secara random memilih saham. Kriteria ROE>O ( dan DER<1 yang nanti akan dijelaskan pada lanjutan serial tulisan ini) berarti juga bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan yang tetap bisa memperoleh untung dan aman.
Dengan memilih kriteria ROE>3 ini, Kakdrway bukannya menganggap bahwa apa yang ditetapkan oleh Warren Buffett dan investor-investor lain yang mengikutinya itu salah. Namun, Ia sangat menyadari bahwa kemampuan dan pengetahuannya mengenai bisnis dan investasi itu terbatas dan tidak sebanding dengan Warren atau investor-investor lain, walaupun lebih dari setengah masa hidupnya telah Ia dedikasikan untuk membantu memasarkan produk dan mengurusi perusahaan orang tuanya.
Pemahaman akan diri sendiri dan penyesuaian strategi investasi yang ditetapkan oleh Kakdr itu bisa kita kaitkan juga dengan peryataan Charlie Munger yang menjelaskan pentingnya pemahaman akan kelebihan dan kekurangan diri sendiri sebagai syarat pertama dan utama untuk menjadi seorang investor yang berhasil. Berikut pernyataan Munger:
“How do you learn to be a great investor? First of all, you have to understand your own nature. Each person has to play the game given his own marginal utility considerations and in a way that takes into account his own psychology. If losses are going to make you miserable and some losses are inevitable – you might be wise to utilise a very conservative pattern of investment and savings all your life. So you have to adapt your strategy to your own nature and your own talents. I don’t think there’s a one size fits all investment strategy that I can give you.” (Charlie Munger)
Selanjutnya, om Dharta juga menyadari bahwa menemukan perusahaan yang luar biasa dan memiliki 2 ciri yang telah dijelaskan di atas tidak lah mudah atau sangat sulit. Walaupun untuk ciri pertama itu mungkin mudah dan banyak perusahaan bisa memenuhinya, ciri kedua sangat jarang sekali ada perusahaan yang mampu memenuhinya.
Hanya ada sedikit sekali perusahaan-perusahaan yang memiliki kedua kriteria itu di dunia. Oleh karena itu pula menjadi wajar kenapa Buffett/munger lebih memilih portofolio terkonsenterasi kepada hanya sedikit perusahaan saja. Sekali lagi hal ini mengkonfirmasi apa yang telah disampaikan ditulisan sebelumnya, yaitu: pilihan portofolio dengan diversifikasi luas atau terkonsentrasi lebih pada strategi/gaya investasi yang digunakan.
Kesulitan untuk mencari perusahaan yang luar biasa dan mengikuti gaya investasi Warren buffett ini juga pernah dikemukakan oleh Joel Greenblatt. Ia pernah mengingatkan orang-orang yang mau mengikuti apa yang dilakukan oleh Warren Buffett dan Peter Lync tentang betapa sulitnya untuk mencari perusahaan yang baik yang menjadi kriteria utama kedua investor legendaris dunia tersebut.
For those who wants to be the next Buffett or Lynch:
”There are no flaws in the investment methods of Warren Buffett or Peter Lynch. The problem is that you’re not likely to be the next Buffett or Lynch. Investing in great businesses at good prices makes sense. Figuring out which are the great ones is the tough part…” (Joel Greenblatt)
Kesalahan dalam menentukan perusahaan-perusahaan yang mampu secara konsisten berkinerja luar biasa baik ini dapat mendatangkan resiko kerugian yang besar bagi kebanyakan investor. Persepsi yang menganggap suatu perusahaan itu luar biasa seringkali membuat harganya naik tinggi dan mahal dan sangat beresiko jika terjadi penurunan kinerja. Benjamin Graham pernah mengatakan bahwa:
“Observation over many years has taught us that the chief losses to investors come from the purchase of low-quality securities at times of favorable business conditions.“ (Benjamin Graham)
Berdasarkan alasan-alasan tersebut itulah Kakdr Way hanya menetapkan ROE>0 sebagai salah satu kriteria saham-saham yang akan masuk dalam portofolionya. Kriteria ini dipilih atas alasan teknis, realita bisnis, dan juga kondisi personal kakdr.
Bagaimana kriteria-kriteria lain dari Kakdrway? Mohon tunggu lanjutan dari serial “the beauty of encek glodok: the series” berikutnya.
Wassalam.
Baca lanjutannya di THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 6) – by Bluerider2000
