THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 4) – by Bluerider2000

lanjutan dari THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 3) – by Bluerider2000
atau baca dari awal

THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 4)Source Link


PENANGKAP PISAU JATUH: THE CONTRARIAN AND THE LAW OF REVERSE TO THE MEAN

Mana yang lebih baik, beli saham yang sedang naik atau beli saham yang sedang turun? Ini juga salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan dan jadi perdebatan di forum-forum saham.

Untuk pertanyaan ini, encek glodok lebih memilih untuk menangkap pisau jatuh dibanding burung terbang. Kakdr way memilih saham-saham yang sudah jatuh setidaknya 50% dari harga tertingginya. Dengan kata lain, pemilik toko kelontong ini adalah seorang investor contrarian dan bukan trader trend follower.

Tulisan ini akan membahas mengenai perbedaan strategi yang kebanyakan diterapkan oleh seorang trader dan seorang investor. Karena tulisan ini merupakan bagian dari serial “the beauty of encek glodok”, pembahasan pada tulisan ini akan lebih dititik beratkan pada kelebihan yang dimiliki strategy contrarian ini.

Bagi kebanyakan trader, kemana harga bergerak adalah acuan dalam keputusan untuk membeli ataupun menjual saham. Bagi mereka harga dan volume perdagangan suatu saham merupakan rujukan utama, sementara kondisi fundamental perusahaan tidak menjadi pertimbangan utama dalam keputusan mereka (itupun kalau memang masuk pertimbangan).

Seorang trader memiliki asumsi bahwa harga (pasar) selalu benar (market is always right). Harga pasar sudah memperhitungkan (discountI) semua informasi yang ada, termasuk faktor fundamental perusahaan.

Selain itu, seorang trader juga percaya bahwa harga saham itu akan bergerak mengikuti trend dan ada momentumnya. Harga saham yang naik cenderung akan terus naik, sebaliknya harga yang turun akan cenderung terus turun atau sulit untuk naik. Karena itu, dalam trading ada yang namanya support dan resistance.

Dengan asumsi dan kepercayaan tersebut, sebagian besar trader adalah seorang trend follower: membeli saham yang harganya sedang naik dan menghindari yang sedang turun.

Konsekuensi logis dari itu semua, para trader punya aturan cut loss (CL) guna melindungi modal mereka. Karena mereka membeli saham berdasarkan asumsi/kepercayaan di atas, trader yang tidak memiliki atau mematuhi aturan CL akan sangat berbahaya. Tidak jarang, banyak trader pemula yang tidak disiplin dengan aturan CL ini harus nyangkut di “tiang gantungan”.

Sebaliknya, investor memiliki asumsi dan kepercayaan yang berbeda dengan para trader. Bagi investor, harga di pasar bukanlah rujukan yang tepat untuk menilai “harga” sebenarnya/nilai dari sebuah saham.

Rujukkan utama para investor adalah kondisi fundamental dari perusahaan, dan bukan fluktuasi harga di pasar. Ketika membeli saham, investor memanfaatkan adanya diskrepansi antara harga di pasar dan nilai fundamental dari perusahaan yang sahamnya sedang jadi fokus perhatian mereka.

Investor yang baik adalah mereka yang bisa memanfaatkan sifat moody dan kepribadian labil dari “Mr. Market”. The Dean of Wallstreet, Benjamin Graham mengatakan: “Mr. Market’s job is to provide you with prices; your job is to decide whether it is to your advantage to act on them. You have not to trade with him just because he constantly begs you to”.

Serupa dengan itu, Mantan menantu Warren Buffett, Mary Buffett menjelaskan bahwa “Warren Buffett got super rich not by playing the stock market but by playing the people and institutons who play the stock market.

Oleh karena itu, jika harga yang ditawarkan oleh pasar lebih tinggi dari perkiraan nilai yang dianggap wajar atau belum masuk margin of safety dari perhitungan si investor, dia tidak akan membelinya. Sebaliknya, jika harga tersebut lebih rendah dari yang dia perkirakan, dia akan membelinya, walaupun harga saham tersebut sedang mengalami trend yang menurun.

Bagaimana jika setelah dia beli harga sahamnya teryata terus mengalami penurunan. Bukannya CL seperti trader, biasanya seorang akan terus membelinya (average down) jika dianggap memang tidak ada perubahaan dari fundamental perusahaan.

Seorang investor percaya bahwa penurunan tersebut hanya lah sementara, karena dia percaya pada jangka panjang harga akan mengikuti faktor fundamentalnya. Sebagaimana diungkapkan oleh Graham: “ in the short run, the market is a voting machine, but in the long run it is a weighing machine”.

Berdasarkan penjelasan mengenai perbedaan bagaimana cara trader dan investor membeli saham di atas, pertanyaannya kemudian pastinya adalah mana di antara cara tersebut yang paling baik?

Lalu apa hubungannya perbedaan cara tersebut dengan pembahasan pisau jatuh, contrarian dan reverse to the mean?

Kalau mau tahu jawaban dan penasaran sama lanjutan tulisan ini… Please Stay tuned di sini.

Tabik


PENANGKAP PISAU JATUH: THE CONTRARIAN AND THE LAW OF REVERSE TO THE MEAN (A Sequel)

Pada tulisan sebelumnya gue telah mendiskusikan perbedaan bagaimana cara atau apa dasar trader dan investor membeli saham. Di akhir tulisan juga terdapat pertanyaan mana di antara cara tersebut yang paling baik? Dan apa hubungannya perbedaan cara tersebut dengan pembahasan pisau jatuh, contrarian dan reverse to the mean?

Berikut adalah penjelasan gue atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Karena gue seorang “investor”, menurut gue cara terbaik dan terlogis pastinya adalah caranya si investor. Menurut gue pijakan logis dari asumsi dasar yang mendasari para trader ini lebih lemah jika dibandingkan dengan asumsi dasar yang dipercaya oleh para investor.

Namun demikian, gue tetap menghormati mereka yang menggunakan pendekatan tersebut. Bagi gue, trader adalah mitra para investor yang tetap harus dihormati, karena mereka menyediakan likuiditas di pasar yang dibutuhkan oleh investor agar bisa mengangkat harga saham yang telah dibeli dan sebaliknya menyediakan saham dengan harga murah yang ingin ditampung oleh investor.

No Offence ya ini!

Selain itu, bagi gue, baik trader ataupun investor keduanya sama-sama “bermain” dengan ketidakpastian atau probabilita. Karena itu, gue bisa memahami dan menerima kenapa trader seperti Atok Andi, @joyistabella, itu berprilaku demikian. Berdasarkan hal ini juga, gue menghormati pilihannya, karena seperti iman atau agama semuanya kembali kepada kepercayaan masing-masing.

Dari sisi probabilitas, perbedaan trader dan investor, menurut gue hanyalah kepada dasar yang jadi tumpuan “bertaruh” (betting) yang mereka lakukan. Para trader ber”taruh” berdasarkan data-data statistic historis dari signal harga dan volume perdagangan.

Sementara, para investor ber”taruh” berdasarkan perkiraan mereka atas “nilai intrinsic”/ “nilai wajar” dari sebuah saham berdasarkan kondisi fundamentalnya.

Kenapa gue pake tanda kutip untuk bertaruh dan nilai instrinsik? Itu karena gue menganggap, nilai instrinsik itu pada dasarnya hanyalah sebuah perkiraan saja. Ini sama seperti pertanyaan gue dulu kepada Atok @joyistabella di thread yang dia buat ini: https://stockbit.com/post/2058835

Bagi gue “fair”/”instrinsic” value itu secara “riil”/”pasti” sebenarnya tidak ada atau hanya theoretical concept aja. Memang kita bisa menghitung nilai “intrinsic” ini berdasarkan future cash flow (instrinsic factornya) yang bisa dihasilkan oleh bisnis tersebut, tetapi hasil akhirnya juga tidak bisa dilepaskan dari extrinsic factors (i.e. the discount rate/opportunity cost) yang ditentukan oleh subjectivitas setiap orang yang menghitungnya.

Akibatnya, hasil perhitungan tiap orang tidak akan selalu sama. Dengan kata lain, akan terdapat beragam instrinsic value dari sebuah bisnis yang sama untuk tiap orang yang berbeda. Walaupun memang nilai instrinsic value itu memang berupa range tertentu dan bukan satu angka/nilai yang pasti, tetap saja itu berarti tidak ada “true intrinsic value”.

Pada akhirnya, sama seperti consumer behaviour dan producer behaviour pada Ilmu mikroekonomi 101, “kebenaran” dari “intrinsic value” masing-masing orang itu, pada akhirnya akan ditentukan oleh harga keseimbangan yang terjadi dari interaksi supply dan demand di pasar. Oleh karena itu, asumsi para trader “pasar tidak pernah salah” pada tingkat tertentu itu tidak sepenuhnya salah dan masih bisa diterima.

Berdasarkan harga keseimbangan dari supply dan demand itu jugalah makanya sikap contrarian (membeli ketika harga sedang turun (atau menangkap pisau jatuh) dan menjual ketika harga sedang naik (melepas burung yang sudah terbang)) menjadi sangat penting.

Ketika harga turun atau rendah, itu artinya penawaran lebih banyak dibanding permintaan. Dengan kata lain, orang yang mau buru-buru/terdesak menjual (karena BU, takut, etc) lebih banyak dibanding orang yang mau membeli nya, akibatnya harga jatuh.

Jatuhnya harga ini, membuat resiko kesalahan dari perhitungan “intrinsic” value menjadi lebih kecil. Dan berlaku sebaliknya, jika “menangkap burung terbang”.

Benjamin Graham pernah mengatakan bahwa: “The intelligent investor realizes that stocks become more risky, not less, as their prices rise—and less risky, not more, as their prices fall. The intelligent investor dreads a bull market, since it makes stocks more costly to buy. And conversely (so long as you keep enough cash on hand to meet your spending needs), you should welcome a bear market, since it puts stocks back on sale.

Oleh karena itu, strategi ini sering kali di anut/dijalankan oleh banyak value investors. Seth Klarman, misalnya, mengatakan: “ Value Investing Is At Its Core The Marriage Of A Contrarian Streak And A Calculator.”

Pendapat senada juga diungkapkan oleh beberapa investor terkemuka di dunia yang lain. Pendapat-pendapat berikut menggambarkan bagaimana sikap contrarian itu penting bukan hanya untuk meminimalisasi resiko saja tapi juga untuk meningkatkan return.

Howard Mark berpendapat bahwa: “”When investors in general are too risk-tolerant, security prices can embody more risk than they do return. When investors are too risk-adverse, prices can offer more return than risk.”.

Di kesempatan lain Mark juga mengatakan: “When everyone believes something is risky, their unwillingness to buy usually reduces the price to the point where it’s not risky. “

Serupa dengan itu, Warren Buffet juga pernah menjelaskan: “you pay a very high price for a “cheery consensus” in the stock market. You also pay a very high price for a near-term catalyst.”

Terakhir, Sir John Templeton pernah bilang: “It is impossible to expect above average results by doing what everyone else is doing”.

Sikap contrarian ini juga sejalan dengan the law of reverse to the mean. Sebagaimana telah disinggung pada serial part 3 dari tulisan ini. Sebagian besar saham adalah cyclical dan itu artinya mengikuti hukum reverse to the mean ini.

Sebagaimana dijelaskan oleh Sanjay Bakshi pada kutipan yang pernah juga disampaikan di sini https://stockbit.com/post/2150448 . Sesuatu yang buruk akan terjadi pada bisnis yang baik dan sebaliknya suatu yang baik akan terjadi pada bisnis yang buruk. Dan itu biasanya terkait juga dengan siklus hidup dari sebuah bisnis atau capital cycle.

Warren Buffett juga pernah mengatakan bahwa: “What’s hot today isn’t likely to be hot tomorrow. The stock market reverts to fundamental returns over the long run. Don’t follow the herd.”

Penjelasan lebih lengkap mengenai contrarian strategy dan reverse to the mean ini dapat dibaca di banyak buku dan artikel. Salah satunya buku yang berjudul “Contrarian Investment Strategies, yang ditulisa oleh David Dreman.

Posting dari salah satu suhu yang dulu pernah aktif di SB, @keynesian, ini juga memberikan beberapa kutipan menarik dari sebuah paper terkait dengan contrarian ini. https://stockbit.com/post/631345

Berdasarkan semua penjelasan di atas tersebut, maka dapat dilihat bahwa salah satu basic strategy kakdr way, i.e. menangkap pisau jatuh sejalan dengan strategy contrarian and law reverse to the mean.

Walaupun demikian, apakah itu berarti bahwa menjadi penangkap pisau jatuh saham yang sedang turun itu mudah? Secara praktek, hal itu sulit dilakukan karena ini melawan naluri alamiah kita sebagai manusia, sebagaimana dijelaskan pada Part 1 serial ini.

Untuk mampu berlaku sebagai contrarian kita harus memiliki conviction yang tinggi dan ini hanya bisa diperoleh jika kita benar-benar mengerti fundamental perusahaan yang sahamnya sedang jatuh tersebut.

Sayangnya, hal itu sebenarnya tidak dimiliki oleh Kakdr. Kalau begitu. bagaimana kakdr bisa tetap tenang dan punya conviction menangkap pisau jatuh?

Di sinilah keindahan lainnya dari strategi encek glodok ini, conviction dan ketenangan itu diperoleh dari wide-diversification yang telah disampaikan pada Part 2 serial ini. Dengan wide-diversification, kakdr tidak perlu khawatir akan menderita kerugian yang besar, jikapun teryata perusahaan itu tidak begerak atau bahkan bangkrut sekalipun

Setelah membaca serial part 1-4 ini, elu setidaknya telah melihat sebagian bukti “kecantikan” encek glodok style. Elu mungkin langsung berpikir langsung mau menirunya saja: diversifikasi luas ala toko kelontong, PBV rendah, dan nangkap pisau jatuh.

Eit tunggu dulu, gak semudah itu kawan, masih beberapa lagi basic strategy yang harus elu mengerti dan pelajari.

Jika masih mau belajar… please stay tuned dan tunggu serial kelanjutan dari serial ini.

Tabik

Baca lanjutannya di THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 5) – by Bluerider2000

About Kakdr 415 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply