lanjutan dari THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 5) – by Bluerider2000
atau baca dari awal
DIVIDEN: SHOW ME THE MONEY WHILE I’M WAITING
Lebih baik mana perusahaan yang suka membagi dividen atau perusahaan yang tidak membagi dividen? Ini juga salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan dan jadi perdebatan di forum ini.
Sebagian investor menetapkan dividen sebagai salah satu syarat wajib sebuah saham bisa masuk dalam portofolionya. Sebagian lainnya tidak keberatan jika perusahaan tidak membagikan dividen dan menjadikan dividen bukan prasyarat utama bagi sebuah saham untuk masuk ke dalam portofolio mereka.
Mana yang benar dari kedua pandangan tersebut? Kenapa Kakdr Way menjadikan pembagian dividen sebagai salah satu kriteria dalam basic strategi pemilihan sahamnya?
Bagi penulis, benar tidaknya kedua pandangan tentang pembagian dividen tersebut ditentukan oleh bagaimana kondisi perusahaan yang akan menjadi target investasi: apakah perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang luar biasa bagus (wonderful company) atau perusahaan tersebut adalah perusahaan yang biasa-biasa saja atau jelek?
Sebagaimana telah djelaskan pada part 5 dari serial “the beauty of encek glodok: the series) ini, perusahaan yang luar biasa bagus adalah perusahaan yang memiliki 2 ciri utama. Pertama, perusahaan yang memiliki tingkat imbal hasil yang tinggi dari modal yang diinvestasikan (ROE atau ROIC yang tinggi (biasanya ROE>15x)). Kedua, perusahaan yang menginvestasikan sebagian besar dari profitnya ke dalam perusahaan tapi tetap dapat menghasilkan imbal hasil yang tetap tinggi.
Jika perusahaannya memiliki kedua ciri tersebut, maka akan sangat wajar atau sangat menguntungkan jika perusahaan tersebut hanya membagikan dividen yang kecil atau bahkan sebaiknya tidak membagi dividen sama sekali.
Dibanding membagikan dividen, perusahaan yang luar biasa bagus sebaiknya malah menahan sebagian besar laba dan menginvestasikan kembali ke perusahaan. Laba yang ditahan dan direinvestasikan ini akan meningkatkan pendapatan dan profit usaha perusahaaan sehingga dividen dan nilai perusahaan di masa depan pun akan makin tinggi.
Jika kita percaya bahwa harga akan mengikuti kinerja atau fundamental perusahaan, kenaikan penjualan dan laba di masa depan itu juga berarti bahwa harga sahamnya akan naik. Jadi kenaikan pendapatan dan laba perusahaan akibat laba ditahan yang diinvestasikan kembali untuk peningkatan kapasitas produksi perusahaan bukan hanya akan meningkatkan nilai dividen (cashflow untuk investor), tapi juga harga sahamnya (capital gain).
Di sini investor, mengorbankan keuntungan jangka pendek (dividen saat ini) untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi di masa depan, baik itu berupa dividen yang lebih besar ataupun kenaikan harga di masa depan.
Walaupun perusahaan tidak memberikan dividen saat ini, sebenarnya jika ingin, investor bisa tetap mendapatkan “dividen” sesuai keinginannya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara merealisasikan sebagian keuntungan dari kenaikan saham (capital gain) yang telah ia peroleh dengan menjual sebagian saham yang dimiliki.
Jadi secara teoritis, selama perusahaan bisa meningkatkan modal/kapasitas produksinya dan penjualan serta profitnya (circular terus menerus), tindakan perusahaan untuk membagi dividen ataupun tidak itu sama saja. Adanya dividen bisa jadi malah tidak menguntungkan karena adanya pajak dan hilangnya potensi return di masa depan.
Kalau memang tidak membagi dividen itu baik, lalu apa masalahnya kalau perusahaan tidak membagi dividen sama sekali? Bukankah dengan tidak membagi dividen perusahaan dapat meningkatkan kapasitas produksinya dan laba yang lebih besar lagi?
Pertanyaan tersebut hanya benar JIKA DAN HANYA JIKA laba yang tidak dibagikan tersebut dapat menghasilkan tingkat imbal hasil yang tinggi, sebagaimana tercermin dari ROE atau ROIC perusahaan masih tinggi. Dengan kata lain, perusahaan tersebut memenuhi kedua ciri perusahaan yang luar biasa bagus (wonderful companyI).
Tidak kalah penting, perusahaan tersebut juga harus dikelola oleh management yang kompeten dan sangat dapat di percaya. Sebab, akan sangat beresiko sekali kalau kita rela tidak menerima dividen dengan harapan nilai perusahaan di masa depan meningkat dan perusahaan membagikan dividen lebih besar di masa depan, tapi teryata uangnya malah disalahgunakan oleh managemen atau pemilik perusahaan.
Di Indonesia, hal seperti ini sudah jamak terjadi. Beberapa kali misalnya kita mendengar salah satu group konglomerat yang memiliki perusahaan sangat bagus (wonderful business) yang usahanya berekspansi sampai ke manca negara, tapi menggunakan uangnya untuk keuntungan pribadinya, seperti membeli tanah atau mengakuisisi perusahaannya sendiri dengan harga yang tinggi, yang jauh dari nilai pasarnya.
Oleh karena itu, menahan laba dan tidak membagikan dividen dapat diterima jika syarat-syarat di atas bisa dipenuhi. Jika tidak, memang lebih baik keuntungan tersebut dibagikan saja sebagai dividen.
Jika memang demikian, lalu apa hubungannya penjelasan tentang perlu tidaknya pembagian dividen ini dengan kakdr way? Kenapa dalam salah satu basic strategi encek glodok, pembagian dividen jadi kriteria sebuah saham bisa masuk dalam portofolionya?
Jawabannya akan kita bahas pada lanjutan tulisan ini.
So Stay tuned. Tabik!
Be the first to comment