Klik tautan ini Jika pembaca merasa isi dan materi blog kakdr.com berguna dan memberikan manfaat,
Dan ingin memberikan donasi (untuk membantu meringankan biaya pemeliharaan dan pengembangan blog ini)
Terima Kasih
Kalau kita bisa menganggap Bursa adalah Pasar dimana kita adalah Pedagang didalam pasar
Maka Volatilitas Harga Barang itu harus ada
Terjadinya pergantian naik turun itu harus ada
Lebaran, Natal dan Imlek itu harus terjadi bergantian tidak boleh di rayakan bersamaan
Coba bayangkan kita memiliki sebuah restauran
Karena Lebaran, Natal dan Imlek itu terjadi pada saat yang berbeda
Maka dalam 1 tahun kita punya 3 waktu rame
Lebaran rame, Natal rame lagi, Imlek rame lagi
Tapi jika ketiganya terjadi di hari yang sama,
Ramenya 1 hari, lalu sisa 364 hari lagi gimana?
Disamping itu restauran kita ada batas kapasitasnya
Misalnya kapasitas 10 meja
Dengan terjadinya hari raya bergantian maka kita bisa mendapatkan full meja 3X 10 Meja
Tapi karena terjadi bersamaan kita justru harus membuang 7*3 = 21 meja
Demikian pun dengan pedagang perlengkapan hari raya
dalam waktu bersamaan tiba tiba terjadi penumpukan kunjungan ke toko dari 3 kelompok yang mau merayakan hari raya nya
Luas toko kita tidak bisa serta merta langsung bertambah lebar 3X
SDM toko kita tidak bisa serta merta ditambah 3X lipat
Belum lagi ini artinya kita harus menyiapkan gudang 3X lebih banyak untuk menampung produk kebutuhan 3 hari raya yang berbeda beda tersebut
Kalau hari raya terjadi pada saat bersamaan maka harga barang barang pasti akan mengalami lonjakan sangat tinggi
Setelah hari raya, harga barang barang tersebut akan turun secara bersamaan
Tetapi karena hari raya di rayakan di waktu berbeda
Maka ketika lebaran, yang akan mengalami kenaikan hanya produk kebutuhan lebaran
sementara produk kebutuhan natal malah akan mengalami penurunan
Ketika Natal, gantian tuh yang akan mengalami kenaikan adalah produk kebutuhan natal
sementara produk kebutuhan lebaran yang akan mengalami penurunan
Demikian pun dengan saham di porto kita
Kalau semua naik, kita jual semua terus duitnya mau dipake buat beli saham apa?
Atau kalau semua turun, kita mau beli semua apakah duitnya ada?
Yang paling baik adalah harus ada yang naik kemudian turun dan ada yang turun kemudian naik
supaya sepanjang tahun bisa rame seperti cerita usaha restoran
supaya kita tidak perlu sampai punya 3 gudang perputaran barangnya penuh-kosong-penuh-kosong

Minggu ini walaupun porto ipot gue turun 1.9% tetapi terjadi justru menjadi kesempatan buat buyback saham saham karena penurunan IHSG ditarik turun oleh seluruh sektor
Transaksi Beli yang hampir tiap hari terjadi, membuat RDN menjadi minus dan akhirnya harus obok obok porto mencari apakah ada yang bisa di ngesot,
Kebetulan minggu ini terjadi anomali pada pergerakan harga INTP dan SMGR dimana minggu ini harga INTP naik sementara harga SMGR turun
Kebetulan juga gue punya posisi di INTP dan SMGR yang porsinya belum lengkap
Dannn kebetulan juga
di Harga 11.450 INTP gue Floating Profit 22%
sementara di harga 6.950 SMGR gue Floating Loss 13%
Jadi gue manfaatkan kesempatan ini untuk posisitonin ulang SMGR dan INTP
Jual 1 yang jadi 1.22 (naik 22%) bisa membeli 1.22/0.87 = 1.4 yang 1 jadi 0.87 (turun 13%)
Jadi gue sort INTP untuk menutupi RDN yang minus, dan sisanya gue belikan jadi SMGR
TRIS yang di sort di harga 262 berhasil buyback hanya dalam waktu 5 hari dengan selisih jual beli (untung) 15.2%
Ada juga kesempatan jual DLTA yang ada kelebihan beli sejak November 2022 di harga 3.900 yang akhirnya minggu ini berhasil dijual di harga 3.950
Rugi waktu, tapi tidak rugi uang (gue anti cut loss)
Tapi apakah bener bener rugi?
Nggak juga kalau kita liat secara keseluruhan
Dengan penjualan DLTA, uangnya bisa gue pakai buat buyback GEMA, MPPA, TPMA dan LMSH
Pembelian GEMA di harga 220, 213 dan 205 adalah buyback TP1 di harga 330
Buyback 33% lebih rendah dari harga jual
https://kakdr.com/ketika-mendadak-ragu-di-tengah-jalan/
Pembelian MPPA di harga 107 adalah buyback TP1 di harga 214
https://kakdr.com/cerita-mppa-di-bursa-waktu-itu-milik-kita/
Buyback 50% lebih rendah dari harga jual
demikian pun dengan MLPL adalah buyback dari TP1 di harga 150 (7 April 2021)
Buyback 33% lebih rendah dari harga jual
*MLPL nanti kalau ada waktu gue ceritain
Pembelian TPMA di harga 412 dan 394 adalah buyback ngesotan di harga 474 dan 464
Lebih rendah 10% dari harga ngesot
https://kakdr.com/cerita-tpma-buyback-done/
Pembelian LMSH adalah perubahan rencana karena keadaan
yang tadinya beban setelah melewati waktu malah menjadi kesempatan
https://kakdr.com/cerita-minggu-ini-minggu-ke-10-2023/
TP1 di harga 860 , Buyback di harga 500
Buyback 42% lebih rendah dari harga jual
Nah….
sisanya pembelian RBMS, GJTL, DART, BBKP, dan Jual SOCI (untuk tutupin cash minus) ini adalah hasil dari Lebaran dan Natal yang terjadi bergantian
Menjelang Lebaran, produk produk kebutuhan Lebaran akan naik harga seiring meningkatnya permintaan
Sementara produk produk kebutuhan Natal akan turun harga karena permintaan merosot dalam.
Saat itu Fokus kita adalah berusaha menjual kebutuhan lebaran dengan harga setinggi tinggi nya sambil membeli kembali kebutuhan natal dengan harga serendah rendahnya
Demikian pun ketika menjelang Natal
RBMS, GJTL dan kawan kawan nya ibarat barang dagang tambahan yang melengkapi dagangan utama
Seperti Agen Gas LPG biasanya menjual selang regulator
atau Agen Air biasanya menjual sirop dan snack

Setelah minggu kemarin di tutup dengan RDN plus, minggu ini kembali ditutup dengan RDN minus kembali
3 dari 4 Minggu RDN posisi minus hihihihi
Be the first to comment