“It’s possible to commit no mistake and still lose. It’s not weakness, it’s life.” – by Bunga

Kata2 di atas diucapkan oleh Kapten Jean Luc Picard, tokoh fiksi dari serial TV Star Trek-Next Generation.

Walaupun diucapkan oleh seorang tokoh fiksi, bukan berarti ucapan itu nirmakna. Sebaliknya, kalimat di atas bisa jadi sangat bermakna.

Dalam menjalani kehidupan, sejatinya ada sedikit sekali hal2 yang bisa kita kendalikan secara penuh. Hidup ini kebanyakan adalah pergulatan sehari2 kita dalam mengantisipasi dan beradaptasi atas setiap perubahan yang terjadi atas kehendak semesta.

Dalam investasi/trading, seperti juga dalam hidup, pada dasarnya kita tidak memiliki kendali sebesar yang kita kira. Kecuali pemilik/pemegang saham utama, nasib para investor tergantung pada faktor2 eksternal seperti performa bisnis, kondisi industri, ekonomi makro, kepastian hukum, dan manajemen untuk “membantu” mencapai angan2 dan impian yang kita harapkan sebagai investor.

Ada kalanya kita telah mengerjakan “PR” dengan tekun dan teliti, semua sudut dan celah telah dijelajahi, dan semua perhitungan telah dicermati. Pada saat analisis rampung, kita merasa sangat optimis akan masa depan emiten tempat kita menginvestasikan uang. Lalu terjadi hal2 di luar kendali: manajemen mencuri, industri mengalami disrupsi, perubahan kebijakan dari otoritas, dan lain sebagainya. Harga saham yang diharapkan terus naik malah berbalik arah, menurun. Rasio2 berubah ke arah yang tidak menggiurkan, dividen pun mungkin tidak lagi dibagikan, mengingat emiten mengalami kerugian. Tren harga berubah, pola2 tidak lagi memperlihatkan pergerakan yang bullish, volume perdagangan mengecil, momentum melemah.

Apakah itu artinya kita, sebagai investor/trader membuat kesalahan? Kita tidak bisa mengendalikan apa yang tidak bisa kita kendalikan. Kita telah menunaikan tugas yang menjadi bagian kita. Sayangnya pihak2 lain tidak begitu adanya. Ketidak berdayaan kita untuk “menghindari kemalangan” adalah sesuatu yang manusiawi belaka. Semesta memang kadang2 sekejam itu dalam mempermainkan kita.

Namun, ia akan menjadi sebuah kesalahan ketika kita tidak mampu (bahkan tidak mau) untuk beradaptasi terhadap situasi yang ada.

Sekali lagi, kita memang tidak bisa mengendalikan apa2 yang tidak bisa kita kendalikan, namun bukan berarti kita tidak mampu (atau tidak boleh) bereaksi terhadap setiap perubahan yang ada, beradaptasi, berimprovisasi, dan sebisa mungkin mengambil keuntungan dari situasi yang terjadi.

Kita memegang kendali penuh atas diri sendiri, atas reaksi kita, atas kemampuan kita beradaptasi atas apa2 yang terjadi diluar diri.

Mari kita tengok kembali bagaimana Buffet mengerjakan “PR” nya dengan sempurna saat mengambil alih Berkhsire Hathaway, hanya untuk kemudian terpukul oleh situasi industri yang tidak bersahabat. Sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. Namun ia beradaptasi, berimprovisasi, dan menjadi penyintas. Berkshire Hathaway bertransformasi dari sebuah pabrik pemintalan yang terancam bangkrut menjadi holding company paling berharga di Wall Street.

Dalam kisah lain, ia mengerjakan “PR” nya dengan sempurna ketika menghindari Apple, hanya untuk kemudian mendapati bahwa Apple adalah emiten yang luar biasa. Ia beradaptasi, membeli Apple walau dianggap sudah “terlambat”. Apple tetap tumbuh dengan kuat, dan Berkshire mememetik buah dari investasinya.

Tengok pula kisah2 lainnya; bagaimana Buffett berurusan dengan Disney, Solomon Brothers, atau General Electric.

Tidak ada yang salah dengan mengakui bahwa situasi telah berubah, tidak ada yang salah dengan mengubah opini dari optimis menjadi pesimis atau sebaliknya.

Tidak ada yang salah dengan mengakui bahwa fakta berubah, dan karenanya opini dapat berubah pula.

Kita bukan dewa, bukan tuhan yang selalu benar dan omni-kendali. Sesuai kodrat evolutif, kita ditakdirkan untuk selalu berubah, beradaptasi, dan berimprovisasi demi keberlangsungan dan kesintasan hidup kita sendiri.

Walau itu berarti harus mundur, menghindar, tiarap, berlindung, sampai situasi menguntungkan lagi untuk kita melangkah maju dan berkembang.

Karena kadangkala memang begitu adanya; kita telah melakukan segalanya dengan benar, namun semesta berkata lain, dan kita kalah karenanya.

Buffett mungkin contoh yang ekstrim, namun ibrah yang dapat kita pelajari darinya tidaklah diluar jangkauan kita.

Terutama; kerjakan “PR” dengan tekun, cermat, dan teliti; selalu bersiap menghadapi dinamika perubahan dan selalu mampu beradaptasi atasnya. Kebenaran opini kita hanya sekuat fakta2 yang melingkupinya, bukan sebaliknya. Dengan begitu kita bisa menjadi investor/trader yang tak lekang oleh jaman, dan tak rentan oleh perubahan.

Tabik.

About Kakdr 265 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*