Ruang Kosong – by Bunga

Komposer klasik dari Perancis, Claude Debussy pernah berkata; “music is the space between the notes.”

Keindahan sebuah komposisi bukan terletak pada nada, melainkan pada ruang2 kosong diantara para nada, setidaknya begitu menurut Debussy.

Itu artinya, keindahan dan mutu sebuah sebuah karya seni, tidak melulu harus hadir melalui kelindan komposisi dan intrikasi rumit yang terjalin diantaranya. Sebuah karya sederhana, yang minim nada, goresan cat, atau lekuk pahatan tetap mampu menghadirkan keindahan dan mutu yang serupa, bahkan lebih.

Bagi Debussy, ruang2 kosong adalah tempat sempurna bagi nada untuk dapat be-resonansi, mengamplifikasi kualitas yang terkandung didalamnya, menjadikannya cemerlang walau dalam kesendirian.

Ucapan Debussy diatas di-amini oleh Jack Schwager, penulis buku “The Unknown Market Wizard”. Dalam proses penulisan bukunya, Schwager banyak menemukan “penyihir2” bursa yang mendekap erat prinsip minimalisme dan kesederhanaan dalam memecahkan setiap problem yang mereka hadapi.

Salah satu yang berhasil ia wawancarai adalah seorang trader retail yang mampu melewati dua crash (dotcom bubble dan subprime mortgage) dengan profitabilitas kumulatif 900%, semata karena ia jarang trading, memilih berdiam diri ketika tidak menemukan peluang yang bagus untuk bertransaksi.

Contoh2 lainnya bisa kita temui dari kisah para mahsyur semacam Darvas dengan box-nya, Greenblatt dengan magic wand-nya, bahkan secara relatif: Buffett dengan lingkaran kompetensinya.

Buffett dahulu pernah berkata bahwa tidak perlu menjadi pemain catur tiga dimensi (baca: jenius) untuk bisa menjadi pelaku pasar yang sukses. Yang dibutuhkan hanyalah temperamen yang tepat, yang bisa melihat masalah secara objektif dan menemukan solusi berbasis fakta yang ada, yang tidak jumawa ketika benar dan tidak kecewa ketika salah. Yang sedang2 saja.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan menjadi rumit, menjadi canggih, menjadi jenius, jika kita mampu menjalaninya: menjadi seperti Beethoven atau Paganini.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan menjadi rumit, canggih, dan jenius, ketika situasi memang mengharuskan begitu adanya: Moonlight Sonata tidak akan menjadi sedemikian rupa indahnya jika digubah secara sederhana.

Namun ketika kita memaksakan diri untuk menjadi rumit, menjadi canggih, menjadi jenius, sementara di depan mata terpampang solusi2 sederhana (dan sukses bisa tercapai dengan cara sederhana belaka), bisa jadi kita sedang tidak objektif dalam melihat sebuah masalah.

Namun ketika kita menutup mata dari solusi2 sederhana, semata karena mengira mereka adalah sesuatu yang “tidak indah” atau “tidak canggih”, bisa jadi kita sedang melakukan sebuah penyangkalan atas fakta2 yang ada.

Ketika kita memaksakan diri untuk menjadi Beethoven atau Dream Theatre sementara kita bisa mencapai level keberhasilan yang sama dengan menjadi Debussy atau The Beatles, jangan2 kita sedang tidak jujur pada diri sendiri.

Bahkan Einstein dalam kerumitan dan kejeniusan otaknya, saat memecahkan misteri alam semesta berpulang jua kepada kesederhanaan E=MC2.

Bahkan Da Vinci dalam kerumitan dan kejeniusan otaknya, menciptakan lukisan paling populer di dunia saat berpulang kepada kesederhanaan potret Monalisa.

Yang diperlukan hanyalah temperamen yang tepat, yang dapat melihat segala sesuatu secara jujur dan objektif, lantas bertindak sesuai fakta yang ada. Apapun solusi dan hasil yang muncul, entah itu sebuah sonata rumit atau sebuah balada sederhana, pasti akan menjadi solusi dengan hasil terbaik dan bermutu tinggi.

Solusi yang mampu menghasilkan keuntungan kumulatif 900% walau dirundung dua crash besar dalam prosesnya.

Tabik.

About Kakdr 265 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*