Take Profit Pakai Patokan

  1. Harga sudah turun (Pisau Jatuh) minimal 50% dari harga tertingginya 5 Tahun
  2. PBV <01
  3. Dividen Rutin

baca : http://kakdr.com/kakdr-way-kaset-rusak/

Tiga Poin diatas, selain adalah sebagai syarat pengamanan bagi kita ketika memutuskan membeli sebuah emiten juga adalah sebagai patokan kita dalam menjual.

Sebagai seorang pedagang di sektor riil, yang sama sekali tidak menguasai Teknikal ataupun Fundamental (ngerti kulit doang) pasti akan membutuhkan waktu yang panjang untuk belajar lagi salah satu dari aliran tersebut.

Oleh karena itu kita cukup mengerti saja, apa pengertian PBV, DER, ROE.
Dijaman persaingan Sekuritas dan Forum Saham yang begini ketat, sudah pasti Sekuritas & Forum tersebut akan berlomba lomba memberikan informasi data seakurat mungkin. Kita tinggal pakai saja. selisih paling sedikit.

Nah, setelah membeli, sering kali kita kesulitan dalam memutuskan kapan untuk menjual. Karena mungkin trauma dengan pengalaman masa lalu. Jual kecepatan atau terlambat jual. Akhirnya kita akan terbiasa menjual (dan juga membeli) pake feeling atau ikut ikut apa kata orang.

Selain pakai feeling atau mendengar apa kata orang. kita bisa juga gunakan 3 Poin diatas sebagai patokan.


Harga sudah turun minimal 50% dari harga tertingginya 5 Tahun.
baca : http://kakdr.com/pisau-jatuh-jenis-risk-rewardnya/

Minimal 50%, itu artinya bahwa -50% itu bukan keharusan, bisa -50%, bisa -55%, bisa -60%, bisa -70% dst sesuai selera kita.

Minimal -50% itu adalah sebagai patokan buat kita bisa Take Profit sampai +100% jika harga kembali ke harga tertingginya.
Take Profit sampai 150% jika kita beli di harga -60%
Take Profit sampai 233% jika kita beli di harga -70%

Jadi ketika kita memutuskan untuk membeli, kita sudah tau kira kira kita mau jualan di TP berapa persen.
Jika harga turun 50%, maka jika kita take profit +50% saja, maka dari harga tertingginya sebenar benarnya harga masih turun -25%
Ini adalah Take Profit menggunakan Patokan Pisau Jatuh


PBV <1 (Nilai Buku)
baca : http://kakdr.com/pengertian-pbv-der-roe-dividen/

PBV adalah Nilai Buku. Jadi kalau kita membangun sebuah perusahaan dengan Total Modal (Modal Sendiri dan atau Plus Hutang) 1.000.000.000 , Maka Nilai Buku sebenar benarnya adalah 1.000.000 (= SATU), PBV sebenar benarnya adalah = SATU

PBV bisa menjadi dua atau tiga atau setengah itu murni atas apresiasi atau depresiasi yang diberikan oleh penjual/pembeli. Jika menurut mayoritas masa depan perusahaan tidak baik, mungkin nilai yang diberikan akan kurang dari satu , namun jika baik itu sudah terserah pasar mau memberikan nilai berapa.

Dengan membeli emiten dengan PBV <1 kita bisa menggunakan 1 sebagai patokan jual. Jika kita membeli sebuah emiten di PBV 0.3X misalnya, maka kita bisa berpatokan menjualnya pada saat harga mencapai PBV 0.5X atau PBV 0.75X sesuai analisa dan pemikiran masing masing.

Jika kita membeli sebuah emiten yang harga sudah kembali ke harga tertingginya 5 tahun, kita juga bisa melihat PBV nya. Jika misalnya PBV masih 0.5X kita bisa saja ganti patokan jual kita menjadi misalnya jual ketika PBV 0.7X

Jual di PBV berapa kita berpatokan pada rata rata PBV pada sektor tersebut.

Contoh misalnya kita punya WIIM yang sekarang sudah posisi Floating Profit (belum dijual) 50%.
Sebelum memutuskan untuk menjual (karena sudah capai target jual) , kita bisa bandingkan dulu PBV antara 3 emiten sejenis di sektor rokok.

Dari sini kita bisa melihat, bahwa walaupun kita sudah menggenggam profit 50%, tetapi PBV WIIM masih ada di PBV 0.5X sementara PBV GGRM 3.2X , dan HMSP bahkan sampai 9.9X

Jadi dari sini kita bisa memutuskan untuk menargetkan profit lebih tinggi baru di realisasikan.

Dengan komposisi PBV diatas secara probabilitas hanya antara GGRM & HMSP turun harga atau WIIM yang naik harga supaya PBV bisa berimbang.
Toh hutang sama sama kecil, cuma ROE aja yang memang beda jauh.

Jadi ketika Target Jual dari pisau jatuh sudah tercapai, kita bisa juga melihat dari sisi PBV apakah masih ada kemungkinan untuk take profit lebih besar atau tidak.


Dividen Yield

Dividen itu sangat penting. Kita tidak bisa tahu kapan target harga yang kita tentukan bisa tercapai. Oleh karena itu dividen sebagai faktor ongkos tunggu sangatlah penting.

Tetapi selain berfungsi sebagai ongkos tunggu, Dividen yield juga bisa menjadi Patokan kita untuk Take Profit

Bisa juga kita mengambil 10X Dividen Yield sebagai patokan menjual.

Misalkan kita punya sebuah emiten yang dari sisi Pisau jatuh maupun PBV sudah seharusnya kita realisasikan keuntungan.
Tetapi kalau dihitung dari modal kita, Dividen Yield per tahunnya bisa sampai 15% (misalnya).


Maka jika kita saatnya merealisasikan keuntungan di +50% karena sudah kembali ke harga tertingginya 5 tahun dan sudah kembali ke PBV = 1 misalnya. Kita bisa menunda realisasikan keuntungan +50% tersebut.
Mengapa?
karena +50% itu sudah bisa kita dapatkan dalam waktu 3 tahun dividen kedepan.
Nah dari sini kita bisa kembali mengubah target Take Profit menjadi minimal take profit di 5 tahun dividen atau 10 tahun dividen sehingga target Take Profit kita berubah menjadi +75% (dividen 5 tahun) atau +150% (dividen 10 tahun)

Begitulah kira kira bagaimana kita Take Profit Pakai Patokan.

About Kakdr 239 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*