Fail To Prepare, Then Prepare To Fail

Sebuah catatan dari Mawar

Blunder terbesar Hitler saat PD II adalah menyerang Rusia! Dimusim dingin! Hasilnya sudah dapat diduga, gagal dan berdarah2. Tidak belajar dari kesalahan Napoleon.

Akibat jangka panjangnya, portofolio peperangan Hitler ikut terpengaruh dan melemah menghadapi Sekutu yang membawa Amerika Serikat masuk kancah PD II (asbab blunder Jepang yang menyerang Pearl Harbor), lalu boncos besar2an.

Siapa pemenang terbesar PD II? Tentulah Amerika Serikat, dengan cut loss paling sedikit dan cuan paling besar (tanah air aman sentosa, sipil hidup bahagia, profit dari jualan senjata, menghasilkan teknologi bom atom, marshall plan, dan cengkraman kuat atas timur jauh dan kelak indochina lalu timur tengah, dan dunia seluruhnya).

Kunci kemenangan Amerika Serikat bukan pada canggihnya alutsista, atau banyaknya personel perang yang mereka angkut. Sekutu yang lain bisa sama unjuk gigi di sektor itu. Bahkan Jerman bisa unjuk gigi juga. Kunci terbesar dalam kemenangan Amerika Serikat adalah timing dan kesabaran menanti

Selama masa awal perang, hampir tiga tahun Amerika Serikat bertahan untuk bersikap netral dan tidak terlibat secara langsung di kancah PD II, dan hanya masuk kedalam perang saat “keadaan sudah sangat mengharuskan” dan “tidak ada alasan lain selain ikut serta”; ketika Pearl Harbor dibom.

Bandingkan dengan Jerman Hitler yang terburu2 ingin menguasai Rusia, atau Jepang yang gegabah ingin menancapkan kaki di pasifik walau masih ada suara2 kontra dalam benak strategis bangsa2 mereka.

Selebihnya sejarah telah kita mafhumi bersama.  

Bursa pada dasarnya adalah kancah perang dunia, dimana semua orang saling “bertempur” dengan orang lain. Ada yang adidaya dengan modal besar, ada yang lemah dengan modal kecil. Paus, Hiu, Kakap, Teri, semua bergumul di kubangan yang sama, mencari kemenangan masing2, besar kecilnya.

Namun selayaknya perang dunia, kunci kemenangan si besar atau si kecil tetap jua serupa: kemampuan menahan diri untuk tidak terjun ke kancah perang pada saat yang salah dengan alasan yang salah.

Berapa banyak dari kita yang terjun ke kancah perang dalam keadaan ragu? Setengah yakin? Atau membutuhkan motivasi dari orang lain untuk menjadi sekedar tigaperempat yakin?

Lalu lihat hasilnya.

Berapa banyak kekalahan baik si besar maupun si kecil karena mereka terburu2 masuk dalam sebuah emiten? Berapa banyak kekalahan yang terjadi karena si besar dan si kecil masuk karena alasan yang tidak kuat? Berapa banyak korban yang timbul karena kesalahan kalkulasi di medan perang?

Sebaliknya, berapa banyak kemenangan yang terjadi karena alasan2 serupa?

Jawaban itu sudah ada di benak kita masing2.

Bahkan yang terbaikpun masih sekali dua tergelincir. Apatah lagi nasib kita yang maju ke medan perang tanpa perhitungan yang matang dan alasan yang kuat.

Seandainya Hitler mau mendengarkan analisis Jendral2 yang menentang invasi ke Rusia, mungkin PD II akan berakhir tidak sama. Seandainya Kaisar Jepang mau menganalisis ulang keputusannya menyerang Pearl Harbor, bisa jadi Amerika Serikat tetap netral sampai masa perang berakhir, dan Jepang akan punya cerita akhir yang berbeda.

Sebagai bahan introspeksi dan retrospeksi. Mari kita tanya ke diri kita sendiri dua hal ini sebelum menekan tombol “buy” dan masuk ke kancah perang penuh darah ini:
1. Apakah saya sudah punya alasan yang tepat dan kuat untuk melaksanakan keputusan ini?
2. Apakah waktunya sudah tepat untuk melaksanakan keputusan ini?

Jika keduanya tidak mendapat jawaban “ya” secara meyakinkan, maka bersiaplah untuk menerima nasib seperti Jerman, Jepang, dan konco pada PD II.

Atau mendingan jadi seperti Swiss aja, kekal netral dan menjauhi kancah perang dunia; namun tetep bisa kaya lewat skema berkebun emas dan beternak properti.

Selamat berkebun. Maaf kepanjangan. 

Mawar, adalah satu dari sedikit orang yang gue paling suka baca tulisan tulisannya, bahasanya yang sederhana dan mudah dimengerti. Bagi yang tertarik mengikuti tulisan tulisannya bisa dengan langsung mengklik kata Joyistabella yang berwarna merah.


Tahu apa yang sedang kita lakukan, dan sedang melakukan apa yang kita tahu

sering sekali gue mendapatkan PM yang menanyakan seperti “boleh masuk gak?” “TP di berapa?” “Mending nambah atau CL?”
Pertanyaan seperti ini biasanya gue jawab dengan kata TIDAK

Kenapa?
ini menunjukkan bahwa dia sebenarnya tidak tahu apa yang sedang dilakukan. Dia hanya terfokus pada yang namanya Untung tanpa sedikitpun memikikan kemungkinan jika sampai Rugi.

Yang penting jangan rugi dulu, karena dengan tidak rugi artinya sudah untung

Seharusnya ini dulu yang dipikirkan sebelum memutuskan membeli, setiap keputusan pasti mengandung 2 konsekuensi, yaitu keputusan yang benar (untung) dan keputusan yang salah (nyangkut).
Nah kemungkinan jika sampai salah ini yang harus kita pikirkan dulu apa yang akan kita lakukan sampai terjadi.
Jika kita sudah tahu langkah antisipasi jika kemungkinan buruk yang terjadi, maka itu artinya hanya tersisa kemungkinan baik atau baik sekali.

Menyerahkan nasib saham kita kepada orang lain sudah pasti adalah sebuah tindakan yang salah. Mengapa?
1. Orang lain tidak tahu keadaan ekonomi kita
2. Orang lain tidak tahu mengapa awalnya kita mengambil tindakan tersebut
3. Keputusan yang diambil orang lain juga pasti memiliki 2 kemungkinan, yaitu benar dan salah.

Seharusnya sejak awal, sejak sebelum memutuskan untuk membeli/menjual, kita sudah harus berpikir dulu, dan atau bertanya pandangan kepada orang lain atas saham yang kita ingin beli/jual.
Dari situ kemudian kita baru menganalisa dan mengambil keputusan terakhir, beli/jual atau tidak?

Dengan persiapan matang, 50% kemenangan sudah ditangan, 35% faktor waktu, Momentum dan nasib, 15% adalah keahlian.

Dengan persiapan matang, minimal kita sudah tahu, kalau sampai kalah, berapa banyak total kekalahan kita? apakah kalah waktu saja? apakah kalah uang saja? ataukalah harus kalah waktu dan uang?
Minimal minimal kita masih bisa cek rekening, sanggup gak gue kalau sampai kalah maksimal terjadi?

Daripada grasak grusuk beli jual pakai emosional, akhirnya kita malah bangkrut.
Ketika akhirnya sudah sadar, kita sudah kalah dan terlempar dari kerasnya dunia bursa. Semua sudah terlambat.

*** Penulis adalah salah satu member dari Forum Stockbit, yang atas permintaan beliau menggunakan nama Mawar.
Terima kasih Mawar
.

About Kakdr 245 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*