Momentum Rebalancing Isi Portofolio (dengan Rekayasa) disaat IHSG sedang turun

Apakah lu sekarang menghadapi keadaan nyangkut dalam di 1 atau 2 emiten dengan uang yang besar? Misalnya sudah nyangkut 20% di ABCD sebesar 40% modal & nyangkut 30% di EFGH sebesar 40% modal, sisanya yang 20% tersebar di beberapa emiten tapi nilainya kecil kecil.
Sudah nyangkut dalam, ternyata baru disadari
1. Dividen gak pernah bagi
2. PBV & DER tinggi
3. ROE rendah

Nah, mumpung IHSG lagi great sale begini, kita punya kesempatan untuk memecah resiko modal kita di ABCD dan EFGH yang terlalu besar menjadi lebih kecil kecil dengan memperbanyak emiten. Resiko di ABCD dan EFGH yang besar, kita pecah menjadi resiko lebih kecil dengan menambah HIJK LMNO PQRS dst.
Apakah dengan memecah resiko itu kita jadi tidak rugi lagi atau malah berbalik untung?

Tidak. Jumlah Floating Loss (kerugian yang tidak direalisasikan) tetap sama, hanya resiko kehilangan nya yang di pecah menjadi lebih kecil.

Caranya?
Carilah emiten emiten lain yang :
1. Sudah jatuh dalam
2. Rutin bagi dividen
3. PBV & DER rendah (LK terbaru)
4. Kalau ROE bisa tinggi lebih bagus, yang penting jangan minus (LK terbaru)

Untuk ilustrasi emiten yang dipilih untuk memecah resiko, gue gunakan WIIM (ps. WIIM ini bukanlah yang paling baik, tetapi sudah cocok untuk ilustrasi dalam artikel ini, screening lagi ya emiten emiten yang lebih baik)

Berdasarkan Keystat:
PBV hanya 0.3X
DER nya NOL
ROE nya walaupun hanya 2% tetapi minimal tidak sampai rugi
Dividen Rutin sejak tahun 2014 kecuali 2018 tidak membagikan dividen
Harga sejak tertinggi 5 tahunnya sudah turun 73%
Nah…. Data inilah yang kita butuhkan untuk memecah resiko. Untuk bisa direkayasa dari hanya 1 atau 2 emiten dengan kerugian sebesar X menjadi 4 atau lebih emiten dengan kerugian sebesar X juga.

Anggaplah ini adalah posisi portofolio kita sekarang. Dimana kita memiliki saham ABCD yang kita beli di harga 1.000 dan sekarang harganya 700 (FL 30%). Dalam posisi ini, walaupun kita yakin dengan emiten pilihan kita, tetapi kita tetap merasa tidak nyaman atau takut jika sampai terjadi hal hal yang buruk terhadap ABCD. Ngomong kasarnya, porsi ABCD di portofolio kita terlalu besar, nilainya melebihi kemampuan kita jika sampai hilang.
Lalu kita menemukan WIIM yang juga sudah jatuh dalam. dimana di harga terakhirnya di 167 posisi keystatnya adalah seperti pada ilustrasi. Dan kita ingin memecah sebagian resiko kita dari ABCD ke WIIM.

Misalkan kita ingin memecah resiko menjadi tinggal separoh (50%), maka pertama tama kita harus pecah dulu Lot ABCD yang awalnya 400 Lot menjadi 2 baris masing masing 200 Lot (lihat baris 4 & 5).

Setelah itu kita hitung, Jika 200 Lot ABCD (2) kita jual, maka kita hanya akan mendapatkan uang kembali sebesar 13.965.000 (rugi 6.038.000) dan dengan uang 13.965.000 jika kita belikan WIIM di harga 167 Rupiah, kita bisa mendapatkan 836 Lot WIIM (lihat baris 7)

Tetapi jika kita mencatat membeli 836 Lot WIIM dengan harga 167 Rupiah, itu artinya kita mengakui kita merealisasikan kerugian (Cut Loss) terhadap 200 Lot saham ABCD sebanyak 30%.

Jika kita tidak mau menganggap itu sebagai Cut Loss, tetapi adalah sebagai memecah resiko, maka konsekuensinya Modal Beli WIIM yang harus kita sesuaikan. Bagaimana caranya?
Perlu diketahui, bahwa walaupun kita membeli 835 Lot WIIM seharga 167 Rupiah (total 13.965.000) tetapi sebenarnya modal kita sesungguhnya adalah 20.000.000 Rupiah (supaya ABCD tidak dianggap Cut Loss). Oleh karena itu modal 836 lot WIIM yang kita beli harus kita sesuaikan harganya hingga menjadi total uang 20.000.000 (lihat baris 8)
Rumusnya adalah 20.000.000 / 836 / 100 sehingga didapatlah modal kita sebenarnya (tanpa harus menganggap Cut Loss ABCD) adalah 239,2 Rupiah (bisa kita bulatkan menjadi 239 atau 240).

Nah… Kenaikan modal mempengaruhi PBV. Kenaikan Modal dari 167 Rupiah menjadi 239,2 Rupiah secara otomatis ikut menaikan PBV nya juga (lihat baris 8).
Rumusnya adalah 239,2 / 167 * 0.3 sehingga didapatlah PBV sesungguhnya di harga 239,2 adalah 0.4X

Jeng Jeng…… Berubah!!!

Perhatikan Baris 4 & 5 (kolom H sampai kolom S)
Perhatikan Baris 10 & 11 (kolom H sampai kolom S)
Sama kan? yang membedakan hanyalah ABCD (2) dan WIIM
Sisanya sama. ABCD posisi FL -30% , WIIM juga FL -30%
Ini artinya kita tidak melakukan Cut Loss terhadap saham ABCD, tetapi memindahkan separoh resiko ABCD ke WIIM dengan memanfaatkan harga WIIM yang juga sedang jatuh dalam akibat anjloknya IHSG.

Yang membedakan adalah kolom A sampai kolom C dan kolom E sampai kolom G.
* Baris 4 & 5 saham ABCD memiliki PBV 1X , DER 1X , ROE 10% dan Dividen Yield 0%
* Baris 10 & 11 saham ABCD memiliki PBV 1X sementara WIIM memiliki PBV 0.4X (WIIM lebih baik)
* Baris 10 & 11 Saham ABCD memiliki DER 1X sementara WIIM memiliki DER 0X (WIIM lebih baik)
* Baris 10 & 11 Saham ABCD memiliki ROE 10% sementara WIIM memiliki ROE 2.2% (ABCD lebih baik)
* Baris 10 & 11 Saham ABCD memiliki Dividen Yield 0% sementara WIIM memiliki Dividen Yield 0.94% (WIIM lebih baik)

Walaupun ABCD & WIIM sama sama dalam posisi FL -30% (memang ini adalah rekayasa memecah resiko dengan memperbanyak emiten bukan sulap mengubah kerugian menjadi keuntungan) tetapi kita sekarang berhasil memindahkan sebagian ABCD ke WIIM yang memiliki keystat dan sejarah dividen yang lebih baik.
* Kalau kita diamkan di ABCD, kita hanya bisa mengharapkan keuntungan hanya dengan reboundnya harga. Selama menunggu kita tidak dapat ongkos tunggu (dividen)
* Tetapi dengan memecah ABCD menjadi ABCD + WIIM , maka separoh dari ABCD yang dipindahkan, kini bisa mengharapkan keuntungan dari reboundnya harga dan juga dari dividen dari WIIM.
* Dengan hanya memegang saham ABCD, maka jika kemudian ternyata WIIM rebound duluan, posisi ABCD kita tetap dalam keadaan nyangkut.
* Tetapi dengan memecah ABCD menjadi ABCD + WIIM, jika kemudian WIIM rebound duluan, kita sudah bisa menikmati keuntungan dari WIIM, demikian juga jika ABCD rebound duluan.
* Dengan hanya memiliki ABCD, maka jika kita ingin Averaging Down, kita harus beli ABCD lagi sekaligus sebanyak 40 juta atau 20 juta jika kita hanya memiliki uang 20 juta
* Dengan memiliki ABCD + WIIM, maka jika kita ingin Avergaing Down, kita hanya perlu membeli ABCD & WIIM masing masing sebesar 20 juta (total 40 juta juga). Atau jika uang kita hanya 20 juta, maka kita bisa memilih apakah mau Averaging Down ABCD dulu, atau WIIM dulu atau ABCD & WIIM masing masing 10 juta dulu.

Jadi dengan rekayasa memecah ABCD menjadi ABCD + WIIM, selain memperkecil resiko menjadi separoh, kita juga sekaligus memperbesar probabilitas.
Jika ABCD hanya memiliki 2 probabilitas yaitu ABCD Naik atau ABCD Turun, maka dengan mengubah menjadi ABCD + WIIM probabilitasnya menjadi 4 :
ABCD Naik WIIM Turun, kita bisa jual ABCD untuk beli WIIM
ABCD Turun WIIM Naik, kita bisa jual WIIM untuk beli ABCD
ABCD Naik WIIM Naik, ini uda gak usah dibahas
ABCD Turun WIIM Turun, kita punya beberapa pilihan dengan melihat keystat, dividen yield dan Dalamnya Pisau Jatuh.

Beginilah kira kira momentuk yang bisa kita manfaatkan dengan turun dalamnya IHSG akhir akhir ini.
Turunnya IHSG mengakibatkan banyak emiten dengan keystat baik dan history dividen rutin yang ikut jatuh dalam.
Momentum seperti ini bisa kita manfaatkan untuk rebalancing portofolio kita (memecah resiko) atau memindahkan emiten portofolio yang kurang baik dengan emiten yang lebih baik.

Template Merekayasa Emiten bisa di download disini

About Kakdr 245 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*