Retail Bersatu? – by Bunga

Kisah bagaimana “retail” bersatu mengalahkan “bandar” dalam saga Gamestop membuat banyak orang bersuka ria, ya the power of retail, kata mereka.

Bahkan kisah ini kemudian dijadikan penyemangat bahwa kalau retail bersatu, tidak ada yang mustahil, semua memungkinkan.

Oke, ada satu hal yang harus diluruskan. Yang utama adalah kemenangan komunitas WSB melawan bandar dalam “perang” Gamestop adalah situasi yang sangat2 spesifik, dimana para shortseller melakukan sebuah blunder dengan melakukan over short (diatas 100% dari jumlah riil saham yang bisa di short), ketika orang2 menyadari ini, khususnya komunitas WSB, mereka mendapati kondisi supply-demand saham GMA sangat timpang, dimana saham GMA di peredaran publik mengalami kelangkaan.

Akibatnya, dengan sedikit effort saja oleh segelintir orang (yakni komunitas WSB), pergerakan harga GMA dapat dengan mudah dimanipulasi, dalam hal ini dikerek naik sampai2 para shortseller kewalahan dan mengibarkan bendera putih. Anak2 WSB memerintahkan anggotanya untuk membeli semua saham GMA yg ada lalu melarang broker mereka untuk meminjamkan saham2 yg sudah dikuasai kepada pihak ketiga (para shorter). Akibatnya, saham GMA menjadi semakin langka ditengah nafsu meminjam saham masih tinggi dikalangan pemain besar yang sudah kepalang basah melakukan short besar2an.

Apa artinya? Ini sebenarnya semata soal role reversal saja, pertukaran peran. Para bandar, entah karena rakus atau sudah terlalu dalam punya vested interest di GMA mendadak berfikir dan bertindak seperti ritel, menumpuk barang secara berlebihan, tanpa perhitungan yang jelas (well, mereka berharap dengan power of “published research”, mereka bisa memanipulasi pikiran pasar, dan menurunkan harga saham GMA yg sudah mereka short). Di sisi lain, ketika anak2 di komunitas WSB menyadari ini, mereka menjelma menjadi bandar yg menggoreng harga semau mereka, mumpung tidak dibutuhkan modal besar untuk menggerakkan harga.

Ini bukan soal ritel bersatu, ini soal sekelompok orang yang memanfaatkan kebodohan sekelompok orang lain. Hanya saja kali ini peran itu tertukar. Biasanya bandar yang membodohi ritel, kali ini segelintir ritel yang membodohi bandar.

Ini bukan soal ritel bersatu, tapi ini semata ekonomi perdagangan biasa: ketika barang langka dan demand tinggi, otomatis harga merangkak naik. Dalam hal GMA, sialnya ada orang2 yg bertaruh besar2an bahwa harga akan turun, dan dengan lugunya malah menciptakan kelangkaan itu sendiri. Seperti menggali kuburan untuk diri sendiri, ironis.

Nah, setelah memahami duduk permasalahannya, apakah konsep ini feasibel, katakanlah untuk mengatasi problem2 yg sedang melanda para ritel yang menyimpan saham ANTM atau AGRO atau saham apapun yang sedang jatuh, supaya bisa naik?

Tinggal bandingkan saja kondisinya. Realitanya, saham2 diatas tidak berada dalam kondisi langka, bahkan cenderung mengalami over supply (makanya harganya turun terus). Realita berikutnya yang mungkin lebih signifikan: jumlah dana yang dibutuhkan untuk melakukan manipulasi ala WSB mungkin tidak sanggup dipenuhi oleh para ritel, walau semua (yang berkepentingan di saham2 tersebut) bersatu.

Pada akhirnya, kasus WSB sendiri tidak lebih dari bandar vs bandar, dimana ritel2 akar rumput, yang beroperasi secara lugu dan tidak tahu apa2 akan tetap menjadi korban: membeli di pucuk. Harga GMA sendiri diramalkan akan kembal jatuh setelah bandar2 besar mendapat suntikan dana (entah darimana) untuk melakukan “stabilisasi”, dan pada saat itu terjadi, bandar2 kecil dari WSB sudah take profit, menyisakan ritel2 sejati berkubang dikolam darah mereka sendiri, akibat FOMO dan aksi tanpa analisis.

Akhirul kalam, ritel bersatu memang bisa menggoyangkan pasar, namun dibutuhkan kondisi2 super spesial agar itu bisa terjadi. Dalam dunia dimana dog eat dog seperti bursa saham, sekumpulan ritel cerdas yang bergerak sendiri2 masih jauh lebih berguna daripada sekumpulan ritel lugu yang bergerak bersamaan.

Jangan terlalu bangga dengan apa yg terjadi pada WSB dan GMA, jangan pula ia dengan naif kita jadikan preseden bahwa itu bisa kita emulasi dan contoh dalm rangka “menumbangkan bandar jahat”.

Nope, it’s just a fluke, a rarity. Dan dalam identitas aselinya, itu tidak lebih dari sebuah aksi manipulasi biasa, hanya saja kali ini dilakukan oleh “tersangka2” yang tidak biasa, yang kebetulan punya identitas sama dengan kita: ritel.

Tabik.

NB: di sisi lain, ini bisa menyadarkan kita bahwa bandar juga sama begonya dengan ritel. Jadi, tetaplah percaya pada analisismu sendiri, jangan mau ikut2an bandar yang ternyata sama saja, bodoh juga.

Terima kasih Bunga atas tulisan yang super ini – Kakdrw

About Kakdr 277 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*