Untung Rugi Menangkap Pisau Jatuh vs Burung Terbang

Perhatian!
artikel ini menggunakan asumsi emiten yang sedang naik dan turun itu baik secara keystat , dividen dan GCG. Jangan semua emiten yang naik atau turun disama ratakan. baca : ini dulu


Tahun 2020 kemarin, kita bersama 2 orang teman kita sebutlah AGUS & LINA sama sama masuk ke bursa dengan modal masing masing 10 juta rupiah.
Lalu bersama sama mencoba mencari emiten yang baik ditemukanlah emiten AAAA dan LLLL yang ketika itu sama sama ada di harga 1.000 Rupiah dan memiliki keystat dan history pembagian dividen yang mirip mirip.

Kemudian Agus membeli 10.000 lembar (10 lot) saham AAAA di harga 1.000
dan Lina membeli 10.000 lembar (10 lot) saham LLLL di harga 1.000
sementara kita karena sesuatu hal akhirnya tidak membeli saham apapun.

Agus beli AAAA & Lina beli LLLL

Akhirnya Agus mengubah 10.000.000 nya menjadi 10.000 lembar saham AAAA sementara Lina mengubah menjadi 10.000 lembar saham LLLL dan kita tetap pegang Cash 10.000.000

Hari ini akhirnya kita teringat bahwa di RDN kita masih ada duit 10.000.000
Mau kita belikan saham deh….
kita lihat lagi harga AAAA dan LLLL sekarang.
Ternyata harga AAAA sudah naik jadi 2.000 (naik 100%)
Ternyata harga LLLL sudah turun jadi 500 (turun 50%)
*alasan mengapa turun 500 sedangkan naiknya 1.000 bisa dibaca disini

Beli yang mana?
Pada umumnya kita pasti akan memilih membeli AAAA yang sudah naik ke 2.000 dibandingkan memilih membeli BBBB.
Karena secara psikologi, kita akan menganggap yang sedang turun pasti jelek dan apa yang sedang naik pasti bagus.

Sekarang coba kita bersikap netral, tidak main emosional atau psikologi. Tetapi main pakai hitungan.

ikut Agus beli vs ikut Lina beli

Saham yang sedang naik dan cenderung terus naik dalam teknikal disebut Uptrend atau Bullish atau Burung Terbang.
Sementara saham yang sedang turun dan cenderung turun lagi dalam teknikal disebut Downtrend atau Bearish atau Pisau Jatuh.
Naiknya sampai seberapa tinggi?
Turunnya sampai seberapa dalam?
Ini yang kita tidak bisa menebaknya secara pasti.
baca : Sideways, Uptrend dan Downtrend


Menangkap Burung Terbang (Uptrend)
Biasanya jika emiten dalam posisi uptrend atau bullish harga cenderung akan terus naik. Sampai berapa?
ini kita tidak bisa tahu. Bisa aja ketika kita beli harga masih akan terus naik, bisa juga ketika kita beli harga sudah mencapai puncaknya (beli di pucuk) dan bergerak sideways atau malah mulai turun.

Kenaikan harga bisa di picu oleh banyak faktor, seperti emiten akan merilis LK yang membaik (+), atau ada pengumuman dividen (+), atauuuu emiten ingin melakukan Right Issue (-) atau ada kepentingan untuk mempertahankan nilai jaminan / repo (-) dan lain lain.
Atauuuu ada kepentingan menjaga harga tetap di harga tinggi untuk distribusi (menjual dalam jumlah besar)

Jika kita memilih ikut Agus membeli saham AAAA, maka :

Ikut Agus beli dan harga naik
Ikut Agus beli dan harga turun

Di harga 2.000 Rupiah, uang 10.000.000 kita hanya bisa mendapatkan 5.000 lembar. Sementara Agus saat itu dengan uang 10.000.000 dia bisa mendapatkan 10.000 lembar.

Jika kita asumsikan dividen kedepannya adalah 50 Rupiah, maka Agus akan mendapatkan dividen sebanyak 50 Rupiah dipotong PPH 10% dikali 10.000 lembar, sementara kita hanya mendapatkan dividen 5.000 lembar.

Dengan membeli di harga 1.000 Agus mendapatkan Dividen Yield sebesar 4.5% jika dihitung dari modal beli. Sementara Dividen Yield kita dengan membeli di harga 2.000 hanya 2.25%

Jika kita juga ingin merasakan keuntungan 100% seperti Agus, maka selanjutnya harga harus naik sampai 4.000 Rupiah (naik 2.000 Rupiah).
Agus? jika harga naik sampai 4.000 Rupiah maka keuntungan nya sudah naik menjadi 300%.
Bagaimana jika kemudian harga malah turun ke 1.400?
Jika setelah kita beli kemudian harga turun ke 1.400 maka saat itu kita mengalami kerugian sebesar 30% (rugi 600 Rupiah), sementara Agus masih dalam posisi untung 40% (untung 400 Rupiah).

Menangkap Pisau Jatuh (Downtrend)
Biasanya jika emiten dalam posisi Downtrend atau Bearish harga cenderung akan terus turun. Sampai berapa?
ini kita juga tidak bisa tahu pastinya. Bisa aja ketika kita beli harga masih akan terus turun, bisa juga ketika kita beli harga sudah mencapai titik terendahnya dan mulai sideways atau mulai naik.

Penurunan harga juga bisa di picu oleh banyak faktor, seperti emiten akan merilis LK yang memburuk, atau emiten ingin melakukan Right Issue (-) dan lain lain.
Atauuuu ada kepentingan menjaga harga tetap di harga rendah untuk akumulasi (menanti retail kehilangan kesabaran dan akhirnya cut loss)

Jika kita memilih ikut Lina membeli saham LLLL, maka :

ikut Lina beli dan harga naik
Ikut Lina beli dan harga turun

Di harga 500 Rupiah, uang 10.000.000 kita bisa mendapatkan 20.000 lembar. Sementara Lina saat itu dengan uang 10.000.000 Lina hanya mendapatkan 10.000 lembar.

Jika kita asumsikan dividen kedepannya adalah 50 Rupiah, maka Lina akan mendapatkan dividen sebanyak 50 Rupiah dipotong PPH 10% dikali 10.000 lembar, sementara kita hanya mendapatkan dividen 20.000 lembar.

Dengan membeli di harga 1.000 Lina mendapatkan Dividen Yield sebesar 4.5% jika dihitung dari modal beli. Sementara Dividen Yield kita dengan membeli di harga 500 adalah sebesar 9%

Jika kemudian harga melanjutkan penurunan sampai 250 Rupiah, maka saat itu kita akan megalami Floating Loss sebesar 50% sementara Lina sudah mengalami Floating Loss sebesar 75%.
Sekarang bayangkan kalau kita ikut Agus beli AAAA di 2.000 Rupiah dan harga turun sampai 250 Rupiah….
Serem kan? hehehehe

Bagaimana jika kemudian harga naik kembali ke 1.000?
Jika setelah kita beli kemudian harga naik ke 1.000 maka saat itu kita sudah bisa merealisasikan keuntungan sebesar 100% (untung 500 Rupiah), sementara Lina masih baru kembali ke posisi kembali modal.

Kira2 beginilah untung rugi menangkap pisau jatuh vs burung tebang.

Menangkap Burung Terbang itu kita kalah di lot yang di dapat, kita kalah di Dividen Yield (jika emiten membagikan dividen), Kemungkinan harga untuk turun selanjutnya menjadi lebih besar daripada kemungkinan naik.
Jadi dengan menangkap burung terbang, belum belum kita sudah kalah banyak posisi. Disamping itu ketika kita membeli saham yang sedang uptrend, secara mental kita dipenuhi rasa kawatir dan takut karena kita menyadari harga sudah naik banyak. Jadi sewaktu waktu harga bisa turun kembali.

Menangkap Pisau Jatuh itu kita menang di lot yang di dapat, kita menang di Dividen Yield (jika emiten membagikan dividen), Kemungkinan harga untuk naik selanjutnya menjadi lebih besar daripada kemungkinan turun karena harga sudah turun turun dan turun terus.
Jadi dengan menangkap Pisau Jatuh, kita mulai dengan banyak posisi yang menguntungkan. Disamping itu ketika kita membeli saham yang sedang downtrend, secara mental kita lebih siap jika ternyata harga turun lagi.

Make Sense kan?
Yang penting jangan sembarangan menangkap pisau jatuh.
Cek dulu keystat nya (PBV DER ROE)
Cek dulu history pembayaran dividennya sebagai ongkos tunggu kita.

Kira kira beginilah untung rugi nya…
Mana yang lebih baik?
Menangkap Pisau Jatuh atau Burung Terbang?
semua kembali ke selera dan rencana kita masing masing.

About Kakdr 261 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*