Right Issue – Baik atau Buruk bagi retail?

Artikel ini hanyalah opini menurut KakdrWay dan merupakan lanjutan dari artikel:
1. http://kakdr.com/pengertian-right-issue-hmetd-ala-kakdrway/
2. http://kakdr.com/pengertian-right-issue-non-hmetd-ala-kakdrway/

Jadi kesimpulannya adalah
Right issue merupakan suatu aksi korporasi untuk menambah modal kerja
(kita anggaplah sebagai modal kerja, tetapi untuk apa sebenarnya kita tidak tahu)

Lalu apakah itu baik atau tidak baik?

Pertama tama kita perlu pahami dulu, bahwa secara umum penambahan modal seharusnya baik.
itu artinya perusahaan membutuhkan modal lebih banyak supaya bisa semakin meningkatkan kinerja.
Meningkatkan Omset (sales) yang secara otomatis akan meningkatkan keuntungan.

Tetapi,
Menambah modal itu sewajarnya (ps. ini hanya opini) melalui pinjaman seperti pinjaman ke bank bukan dengan meminta pemegang saham melakukan Top Up (tambah modal)

Ketika kita menambah modal dengan meminjam ke bank misalnya, maka atas pinjaman tersebut akan timbul bunga.
Pinjam 100 juta dengan bunga per tahun 12% (12 juta) misalnya.
Maka sewajarnya dengan modal baru tersebut manajemen harus bisa menghasilkan keuntungan lebih dari 12 juta itu.
12 juta untuk bayar bunga
sisanya sebagai nilai tambah atas modal tambahan tersebut.

Tetapi dengan meminta pemegang saham melakukan Top Up (Tambah Modal) dengan Right Issue, itu artinya pemegang saham dirugikan.
Dengan mendapatkan modal tambahan dari pemegang saham, manajemen tidak perlu membayar bunga. Itu artinya terjadi kerugian kepada pemegang saham.
Pemegang saham tidak mendapatkan bunga. Padahal kalau uang tersebut di depositokan aja, minimal minimal setiap tahun masih dapat bunga setara SBI.

Disamping itu, Right issue itu ada HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) dan NON HMETD (Tidak Memiliki Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu)

HMETD itu bersifat ditawarkan kepada pemegang saham lama
NON HMETD itu bersifat ditawarkan kepada pihak yang baru.
Kurang adil sebenarnya….

Kalau ada pihak lain yang tertarik, pemegang saham lama tidak memiliki hak untuk menebus saham baru yang diterbitkan.
Kalau gak ada yang tertarik baru ditawarkan kepada pemegang saham lama.
Padahal sewajarnya, jika ada pihak lain yang tertarik, terlebih dahulu dia harus membeli kepemilikan dari pemegang saham lama. Setelah itu baru mau nambah modal terserah deh.

NON HMETD secara langsung akan mendilusi Porsi kepemilikan dari pemegang saham lama. Dan pemegang saham lama tidak punya kuasa untuk menolak.

Jadi kesimpulannya menurut KakdrWay:
Emiten yang sering melakukan Right Issue, bisa dikategorikan tidak memiliki Good Corporate Governance (GCG) yang baik.

Ilustrasi diatas adalah contoh dari 2 emiten yang melakukan Aksi Korporasi yang bertolak belakang.

Emiten A (Entah ada tambah modal atau tidak dengan meminjam ke bank misalnya), tetapi:
* Setiap tahunnya selalu membagikan sebagian dari hasil keuntungan berusaha kepada pemegang sahamnya dengan membagikan Dividen.
* Stock Split itu adalah aksi memecah jumlah lembar saham menjadi lebih banyak dengan memecah nilainya.

Emiten B (Juga entah ada tambah modal atau tidak dengan meminjam ke bank misalnya), tetapi:
* 3 tahun terakhir selalu meminta pemegang sahamnya tambah modal (Right Issue), tidak pernah membagikan keuntungan berusaha sama sekali kepada pemegang saham dalam 3 tahun terakhir.
* Reverse Stock adalah kebalikan dari Stock Split

Ini adalah opini menurut KakdrWay, bukan merupakan suatu yang pasti benar.
Semua kembali kepada penilaian dan pandangan kita masing masing.
Baik untuk kita belum tentu baik untuk yang lain.
Uang kita, Tanggung Jawab Kita

About Kakdr 245 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*