THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 1) – by Bluerider2000

lanjutan dari THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (A Teaser) – by Bluerider2000

THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 1)Source Link

THE BASIC STRATEGIES: A MECHANIC AGAINST THE HUMAN NATURE

Kalau tidak mengerti akuntansi dan bisa membaca laporan keuangan atau paham tentang pola candle stick dan indikator teknikal lainnya, bisa kah kita berinvestasi atau trading saham? Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering ditanyakan orang awam yang baru mau memulai “main” saham secara mandiri/dilakukan sendiri.

Jawaban umum dari pertanyaan tersebut biasanya adalah “TIDAK BISA DAN JANGAN DILAKUKAN”, jika elu gak mau mengalami kerugian. Idealnya seseorang yang mau berinvestasi atau trading saham secara mandiri perlu memiliki salah satu pengetahuan tersebut.

Bagi seorang investor, kemampuan akuntansi dan pemahaman akan laporan keuangan adalah sebuah keharusan, karena itu adalah “Bahasa” untuk mereka agar bisa memahami informasi yang diberikan. Serupa dengan itu, pola candle stick dan indikator teknikal lainnya juga merupakan sinyal yang berfungsi sebagai penunjuk arah bagi para trader kemana kira-kira harga sebuah saham akan menunju.

Kalau belum bisa tapi tetap mau berinvestasi/trading saham, sebaiknya tidak dilakukan secara langsung, tapi pasif saja melalui reksadana/ETF. Serahkan urusannya kepada mereka yang memang “ahli” di bidang ini. Untuk yang pasif ini, elu bisa memilih reksadana/ETF yang dikelola secara aktif atau pasif (reksadana/ETF index).

Apakah kalau memilih reksadana/ETF elu udah pasti untung dan lebih baik? Sayangnya, TIDAK ATAU BELUM TENTU UNTUNG DAN LEBIH BAIK.

Terdapat banyak sekali kekurangan dari reksadana/etf aktif yang mungkin akan membuatnya tidak menghasilkan output sesuai yang elu inginkan. Pertama, biaya pengelolaannya besar. Biaya ini bersifat pasti yang akan mengurangi return lu, sementara return lu tidak pasti.

Kedua, cara pengelolaan yang tidak transparan dan sistem insentif atau peraturan yang ada seringkali biasanya tidak memihak ke elu. Di sini, terdapat masalah “principal agent problem” yang parah, yang membuat manager investasi (MI) mungkin tidak akan bekerja untuk kepentingan nasabahnya secara optimal.

Contohnya, di Indonesia ada aturan besaran persentase dana yang boleh dimasukkan untuk tiap saham dan ini membuat MI tidak bebas menerapkan strategi terbaik mereka. Contoh lain, ketiadaan “skin in the game” (ketiadaan dana MI sendiri yang di”pertaruhkan”) mungkin membuat mereka tidak terlalu terbebani dan secara ceroboh mengelola dana nasabahnya, toh itu bukan uang mereka.

Contoh terakhir, kinerja MI juga biasanya di nilai oleh nasabah dalam jangka pendek. Akibatnya, komposisi porto yang dibuat MI biasanya menyerupai Index, agar jika kinerjanya buruk, tidak disalahkan oleh nasabah dan membuat nasabah lari. Evaluasi jangka pendek ini juga bisa membuat mereka malah terlalu aktif gonta-ganti saham untuk mengejar return jangka pendek, karena bonus dan gaji mereka ditentukan oleh kinerja jangka pendek ini.

Atau kalaupun MI nya sebenarnya baik dan ingin berusaha mendapatkan return yang baik, seringkali hal tersebut juga sulit dilakukan, karena aktivitas keluar-masuk dana nasabah yang umumnya berorientasi jangka pendek.

Berdasarkan kelemahan tersebut, banyak reksadana/ETF aktif ini berkinerja buruk dan jarang sekali yang bisa mengalahkan index secara konsisten dalam jangka panjang.

Atau kalaupun reksadana/ETF aktif berkinerja baik dalam jangka panjang, menariknya data yang ada menunjukkan bahwa hal tersebut belum tentu sama terjadi dengan kinerja investasi nasabahnya.

Banyak nasabah, memasukkan uangnya ke reksadana/ETF ketika pasar sedang bullish dan menarik uangnya ketika pasar sedang bearish. Atau mereka tidak sabar menunggu strategi MI-nya berhasil, karena perlu diingat setiap MI yang bisa mengalahkan pasar dalam jangka panjang, pasti ada suatu waktu dimana kinerja mereka lebih rendah dari pasar di jangka pendek

Fakta bahwa banyak reksadana/ETF aktif bekinerja buruk dan lebih rendah dari index ini, telah membuat banyak orang sekarang beralih kepada reksadana index atau ETF index. John Bogle adalah orang yang mempelopori sistem investasi ini.

Dan Warren Buffett juga mengamini pemikiran Bogle ini bahwa ini adalah cara terbaik untuk SEBAGIAN BESAR/KEBANYAKAN ORANG yang ingin berinvestasi saham di pasar modal. Dia bahkan menyarankan kepada keluarganya untuk berinvestasi di reksadana/ETF index ini setelah ia tiada nanti.

Reksadana/ETF index ini dapat mengatasi sebagian besar masalah yang terjadi pada reksadana/ETF aktif di atas. Biayanya murah dan kinerjanya sudah pasti akan sama seperti index. Di sini, nasabah dapat terhindar dari adanya resiko kinerja investasi yang lebih rendah dari rata-rata pasar atau index.

Sayangnya, walaupun dalam jangka panjang kinerja reksadana/ETF index ini baik (liat IHSG dalam jangka panjang arahnya selalu ke atas dan return nya lebih tinggi dari deposito atau asset lain), reksadana/ETF index ini tidak bisa menghilangkan resiko yang kedua, yaitu resiko kinerja buruk yang diakibatkan oleh tindakan nasabah sendiri yang keluar masuk pasar di waktu yang salah.

Karena mengikuti naluri alamiah manusia dari hasil evolusinya, perasaan fear and greed telah membuat banyak investor bertindak mengikuti kerumunan. Mereka masuk pasar ketika bullish, tapi keluar pasar ketika bearish. Banyak dari mereka yang perutnya mules dan menjual sahamnya pada waktu dimana seharusnya mereka membeli/menambahnya. Akibatnya, kinerja investasi mereka seringkali lebih rendah dari reksadana/ETF indexnya sendiri.

Berdasarkan semua penjelasan di atas, berinvestasi/trading saham, baik yang dilakukan secara mandiri sendiri, ataupun pasif melalui reksadana/ETF (aktif dan pasif), seharusnya TIDAK DILAKUKAN oleh orang yang “perutnya lemah”. Bagi orang-orang ini, lebih baik uangnya ditaruh saja di deposito, reksadana pasar uang atau obligasi pemerintah saja.

Sebagaimana pernah disampaikan oleh Peter Lynch: “Everyone has the brainpower to make money in stocks. Not everyone has the stomach. If you are succeptible to selling everything in a panic, you ought to avoid stocks and mutual funds altogether.”

Nah, kalau begitu gak usah juga dong bahas “the beauty of encek glodok” dan berinvestasi saham secara mandiri?


THE BASIC STRATEGIES: A MECHANIC AGAINST THE HUMAN NATURE (A SEQUEL)

Pada tulisan sebelumnya (https://stockbit.com/post/8914992) telah dijelaskan bahwa idealnya setiap orang yang mau berinvestasi saham langsung secara mandiri HARUS memiliki kemampuan akutansi dan pemahaman akan laporan keuangan yang baik. Kalau tidak punya itu, disarankan lebih baik berinvestasi langsung secara pasif melalui reksadan/ETF (aktif ataupun pasif).

Sayangnya, hal tersebut juga tidak lepas dari banyak kekurangan. Baik reksadana/ETF yang dikelola secara aktif ataupun pasif, keduanya tidak bisa terhindar dari resiko yang diakibatkan oleh fear and greed dari investor yang membuatnya salah timing, masuk dan keluar pasar.

Resiko ini sebenarnya bersifat alamiah, dan oleh karenanya seringkali sangat sulit untuk dihindarkan. Perasaan fear and greed sehingga bergerak mengikuti kerumunan adalah naluri alamiah setiap manusia. Hal ini adalah produk dari evolusi manusia selama jutaan tahun. Pemahaman akan hal ini sangat penting untuk keberhasilan mereka-mereka yang ingin berinvestasi saham di pasar modal.

Kalau memang resiko itu bersifat alamiah dan sulit bisa dihindarkan, lalu apa hubungannya dengan “the beauty of encek glodok”? Apa yang membuat kakdr way bisa mengatasi atau terhindar dari permasalahan ini?

Nah di sinilah, keindahan dari strategy ini. Sama seperti sistem trading atau sistem investasi lainnya yang telah teruji baik di pasar, Kakdr Way menyediakan sebuah mekanisme atau cara otomatis untuk mengatasi persoalan fear and greed itu.

Kakdr Way berisikan basic strategies yang harus atau secara terpaksa disiplin dijalankan. Keberadaan basic strategies ini akan menghilangkan peran emosional kita sebagai manusia. Dengan kata lain, keputusan membeli/menjual atau keluar/masuk pasar tidak lagi ditentukan oleh perasaan fear dan greed tadi, tapi lebih atas dasar suatu sistem yang otomatis.

Hal ini penting, karena sebagian besar kerugian/kesalahan investasi yang terjadi, utamanya disebabkan oleh nafsu keserakahan dan ketakutan yang ada pada diri investor. Basic strategies dari Kakdr Way akan membantu orang yang menjalankannya untuk dapat mengontrol naluri alamiah tersebut.

Lalu apa sih basic strategies dari toko kelontong encek glodok ini? Untuk tidak mengulangi memutar kaset rusak pada tulisan ini (cukup si om aja yang begitu), pada tulisan kali ini gue gak akan menyebutkan lagi satu-persatu dari strategi tersebut. Silahkan cari saja, di post @kakdr yang panjang itu atau kunjungi blog/website beliau di: kakdr.com

Tulisan-tulisan berikutnya dari series ini, akan memaparkan kecantikan dari setiap basic strategies tersebut.

So, Stay tuned di sini ya.

Tabik


Baca lanjutannya di THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 2) – by Bluerider2000

About Kakdr 295 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss