Efek Dilusi Right Issue (RI) bagi retail

Right Issue adalah aksi yang dilakukan oleh korporasi dalam menambah modal dengan menerbitkan sejumlah lembar saham baru.

Di Awal IPO, misalkan Emiten ABCD menerbitkan 100.000.000 lembar saham, kemudian dalam perjalanannya membutuhkan modal tambahan. Emiten bisa saja menerbitkan lagi misalnya 100.000.000 lembar saham baru untuk ditawarkan kepada pemegang sahamnya (HMETD) atau kepada pihak baru (Non HMETD).
Aksi menerbitkan lagi 100.000.000 lembar saham baru inilah yang disebut Right Issue

Right Issue menimbulkan Efek Dilusi, tetapi apa yang sebenarnya terdilusi?
Inilah yang masih banyak yang bingung.

Biar gampangnya, kita ambil contoh Right Issue nyata aja deh, yang lagi hot.
Yaitu Right Issue LPCK


LPCK mengumumkan hendak melakukan aksi korporasi menerbitkan sejumlah saham baru dengan ratio (New : Old) = 285 : 100 (Price 1.495)

Ini artinya bagi seluruh pemegang sahamnya , untuk setiap 100 lembar saham yang dimiliki, berhak menebus 285 lembar saham baru yang akan diterbitkan dengan harga tebus per lembarnya adalah seharga 1.495 Rupiah.

Berhak, Bukan Wajib.
Jadi kalau kita mau, kita memiliki hak untuk menebus. Tetapi kalau tidak mau, kita juga memiliki hak untuk tidak menebus.

Jadi kalau kita memiliki 10 Lot misalnya, Artinya kita memiliki 1.000 lembar. Artinya kita berhak menebus 2.850 lembar saham baru yang akan diterbitkan tetapi setiap lembarnya harus kita tebus dengan harga 1.495 Rupiah. Jika tidak kita tebus maka akan ditebus oleh pihak pembeli siaga (standby buyer).

Cum date RI LPCK adalah tanggal 21 Juni 2019, Ex Date tanggal 24 Juni 2019.
Artinya jika sampai tanggal 24 Juni 2019 kita masih memiliki LPCK dalam portofolio kita, maka untuk setiap 100 lembar yang kita miliki, kita berhak membeli (juga berhak untuk tidak membeli) 285 lembar saham baru yang diterbitkan di harga 1.495 (ratio 1 : 2.85)
* Penjelasan mengenai Cum Date Ex Date baca http://kakdr.com/pengertian-cum-date-ex-date-payment-date/

Nah kalau ditanggal 24 Juni 2019, harga di pasar regular adalah 1.595 misalnya, maka dengan menebus hak kita di 1.495 dan langsung kita jual misalnya , kita langsung bisa mendapatkan keuntungan 100 Rupiah.
Atau bisa juga kita tidak menjualnya jika kita memang menganggap 1.495 adalah harga yang murah.

Tetapi jika kemudian tanggal 24 Juni 2019, harga di pasar regular adalah 1.395 misalnya, dan memang kita memiliki keinginan untuk nambah barang atau Averaging Down. Ngapain bodoh menebus hak RI kita?
Tebus bayar 1.495
Beli di pasar regular bayar 1.395
Kita beli aja di pasar regular, hak kita biarkan standby buyer aja yang tebus. hihihihihi


Lalu dimana efek dilusinya?

Perhatikan tabel diatas.
Jadi ceritanya, per 31 Mei 2019 total lembar saham beredar LPCK adalah sebanyak 696.000.000 lembar.

A. 42.2% (293.706.000 lembar) dimiliki oleh PT Kemuning Setiatama
B. 11.68% (81.316.000 lembar) dimiliki oleh Credit Suisse
C. 46.12% (320.978.000 lembar) dimiliki oleh Public dengan kepemilikan dibawah 5%
Total 696.000.000 lembar saham (100%)

Ini adalah porsi kepemilikan atas perusahaan.
Jika dalam mengambil keputusan PT Kemuning dan Public memiliki pandangan berbeda, maka posisi Credit Suisse menjadi sangat penting.
Jika Credit Suisse memihak PT kemuning, maka pandangan PT kemuning menjadi mayoritas (42.2% + 11.68%)
Tetapi jika Credit suisse memihak Public <5%, maka pandangan Public menjadi mayoritas (46.12% + 11.68%)


Kemudian emiten melakukan aksi penambahan saham baru. dimana setiap 100 lembar saham lama, akan diterbitkan 285 lembar saham baru.
Artinya dari 696.000.000 lembar saham lama akan diterbitkan 1.983.600.000 lembar saham baru.
Sehinggat Total lembar saham yang baru menjadi sebanyak 2.679.600.000 lembar saham (***)

Dari 1.983.600.000 lembar saham baru yang akan diterbitkan:
PT Kemuning berhak menebus sebanyak 837.062.100 lembar
Credit Suisse berhak menebus sebanyak 231.750.600 lembar
Public <5% berhak menebus sebanyak 914.787.300 lembar
Total 1.983.600.000 lembar

Jika kemudian PT Kemuning & seluruh Public <5% memutuskan untuk tidak menebus hak nya misalnya. Dan (anggapan) hak PT Kemuning diambil semua oleh Credit Suisse.
Maka Credit Suisse menebus total 1.983.600.000 lembar


Maka Posisi baru porsi kepemilikan akan berubah menjadi:
A. PT Kemuning 293.706.000 lembar
B. Credit Suisse 81.316.000 + 231.750.600 + 837.062.100 + 914.787.300 = 2.064.916.000 lembar
C. Public <5% 320.978.000 lembar
Total 2.679.600.000 lembar
Cucok kan dengan yang ditandai (***)?

Nah, sekarang coba kita hitung kembali porsi kepemilikan.
A. 10.96% (293.706.000 lembar) dimiliki oleh PT Kemuning Setiatama
B. 77.06% (2.064.916.000 lembar) dimiliki oleh Credit Suisse
C. 11.98% (320.978.000 lembar) dimiliki oleh Public dengan kepemilikan dibawah 5%
Total 2.679.600.000 lembar saham (100%)

Perhatikan porsi kepemilikan PT Kemuning & Public.
PT Kemuning awalnya 42.2% menjadi 10.96%
Credit Suisse awalnya 11.68% menjadi 77.06%
Public awalnya 46.12% menjadi 11.98%

Nahhhhhh…… Perubahan Persentase yang terjadi pada PT Kemuning dan Public inilah yang disebut dengan Dilusi

Awalnya Jika PT Kemuning & Public <5% memiliki pandangan berbeda, maka posisi Credit Suisse sangat menentukan.

Tetapi dengan posisi baru, Suara Credit Suisse dalam mengambil keputusan menjadi mutlak.
Karena Porsi PT Kemuning (10.96%) dan Porsi Public (11.98%) walaupun disatukan (Total 22.94%), tetap kalah besar dengan porsi Credit Suisse (77.06%)

Lalu apa pengaruhnya terhadap harga?
Tidak ada….
Harga itu adalah ditentukan oleh persetujuan Penjual dan Pembeli di pasar saham.

Jadi buat kita retail yang cuma memiliki 100 lembar atau 1.000 lembar atau 1.000.000 lembar sekalipun, tetap tidak ada efeknya.
berapa persen 100 lembar banding 2,6 Miliar lembar?
berapa persen 1.000 lembar banding 2.6 Miliar lembar?
berapa persen 1.000.000 lembar banding 2.6 Miliar lembar?
berapa persen 10.000.000 lembar banding 2.6 Miliar lembar?

Nol koma nol nol nol sekian persen hihihihi….
jadi walaupun kemudian terdilusi 50% juga gak ngepek.
Nol koma nol nol nol sekian persen terdilusi 50% tetap aja jadi nol koma nol nol nol sekian persen.

Jadi Right Issue bagi retail itu tidak berpengaruh sama sekali.
Yang penting diperhatikan adalah harga tebus nya.
Jika kita memang berniat menambah posisi, maka perhatikan harga tebus nya dan harga di pasar regular nya. Mana yang lebih murah?
Jika lebih murah harga RI nya, maka tebuslah hak kita
Jika lebih murah harga di pasar regular, maka beli aja dipasar, Hak kita abaikan saja.

About Kakdr 245 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*