Mau Punya Kebun Saham – Mulainya Darimana?

Inilah pertanyaan yang belakangan ini sering ditanyakan.

Punya kebun saham, terutama dengan tujuan untuk investasi dana pendidikan anak (usia semakin kecil semakin baik) berdasarkan pengalaman yang gue sudah lalui sangatlah cocok.

Karena Timeframe nya panjang

Pada dasarnya dengan timeframe panjang, semua saham memiliki kemungkinan untuk naik tinggi selama tidak delisting.
Karena Bursa adalah Pasar. Adalah kenyataan bahwa tidak semua saham yang naik tinggi memiliki keystat yang baik dan tidak semua saham yang turun dalam memiliki keystat yang jelek. Jadi dengan membeli saham saham yang sudah turun dalam yang kita perlukan hanyalah memberikan waktu untuk dia naik kembali sehingga bisa memberikan keuntungan kepada kita.

Keuntungan utama timeframe panjang adalah:
1. Kita tidak dikejar kejar waktu
2. Punya waktu menabung rutin lebih panjang.

Tidak dikejar kejar waktu
Tujuan investasi adalah uang kita bertumbuh. Misalnya setiap tahun tumbuh 10%
Dengan timeframe panjang, tidak harus setiap tahun harus tumbuh 10% tetapi kita bisa main compounding.
Jika tahun pertama tidak bisa tumbuh menjadi 110%, yang penting tahun kedua tumbuh menjadi 121% itu sudah sama dengan tumbuh 10% pertahun.
Jika tahun kedua tidak bisa tumbuh menjadi 121%, yang penting tahun ketiga tumbuh menjadi 133% itu sudah sama dengan tumbuh 10% pertahun . (untuk pengertian compound bisa dibaca di sini).
Ini yang kita bicarakan adalah pertumbuhan atas dana investasi kita. Sementara di saham masih ada yang namanya Dividen. Jadi selama kita menunggu kita masih berpotensi mendapatkan uang tunggu.

Punya waktu menabung rutin lebih panjang
Bagi kebanyakan, harga turun setelah dibeli itu adalah bencana.
Tapi coba kita ubah sudut pandang kita.
Kalau bulan kemarin kita cicil beli saham ABCD di harga 1.000 sebanyak 1.000.000 Rupiah, artinya bulan kemarin dengan uang 1 juta kita bisa mendapatkan 10 lot.
Bulan ini kita nabung lagi 1 juta, dan harga saham ABCD turun menjadi 900. Bukankah dengan uang 1 juta sekarang kita malah bisa mendapatkan 11 lot?
Yang penting Keystat nya baik! dan ABCD rutin membagikan dividen!
Harga turun artinya PBV juga Turun, Harga turun artinya Dividen Yield malah naik.
Memebeli lebih murah 20% artinya untungnya jadi 25% saat naik kembali nanti. (baca Matematika – A Turun ke X & X Naik ke A)

Oke deh, gak usah panjang lebar lagi….
Strategi mulai berkebunnya gimana?

Pertama tama yang sangat penting adalah Dana Awal yang SUDAH DIPASTIKAN adalah Uang Dingin. Jadi begitu di masukan ke RDN sudah kita anggap hilang.
Setelah itu adalah Setiap Bulan Kita MAU Nabung Berapa?
Gak usah dipaksakan! Kalau sebulan cuma mampu 500.000 tapi pasti ya pakai angka 500 ribu aja gak usah pake angka 1 juta atau 2juta. Ingat disini kemenangan kita adalah kita punya timeframe panjang.
Oke kita anggaplah Dana Top Up Perdana adalah 20.000.000 Rupiah dan Top Up Rutin setiap bulannya adalah 500.000.

Langkah selanjutnya adalah menentukan Profil Resiko kita.
Maksud disini adalah mengukur kesanggupan kita jika kita sampai kehilangan uang.
Jika sekarang kita punya uang 20 juta, kalau ada sebagian yang langsung hilang, kita bisa sanggup kehilangan sampai berapa maksimalnya?
ps. ini kalau hilang ya, disini kita cuma mengukur kesanggupan hilangnya aja
Misalnya 2 juta
Ya sudah berarti untuk langkah awal, setiap emiten yang kita beli adalah 2 juta Rupiah.
Artinya dengan dana perdana 20 juta, kita cari lah 10 emiten untuk dibeli

Screening Emiten dan Strateginya
Karena memiliki timeframe panjang, kakdrway menyarankan untuk fokus ke saham saham dengan potensi dividen rutin dengan dividen yield tinggi dulu daripada ke saham saham potensi capital gain.
Anggap nabung aja ngarepin dividen, kalau kemudian ternyata bisa dapat capital gain kita anggap bonusss

Bursa itu ada 700+ emiten, sementara dengan uang 20 juta, kita cuma bisa beli 10 emiten.
10 / 700 * 100% = 1.4%
Artinya uang kita cuma mampu untuk memiliki 1.4% dari total emiten di bursa. Oleh karena itu kita main sabar dan main tawar.

Kita tentukan dulu minimal dividen yield yang kita inginkan.
5% misalnya, nah kita carilah emiten emiten dengan history dividen yield diatas 5% untuk kita beli. lalu kita pasang GTC deh. Belinya pake cara ini Matematika – Baru Beli Sudah Untung
Sabar aja… setiap hari di bursa selalu ada saham yang turun dan yang naik
Semerah merahnya ihsg hari itu, pasti tetap ada saham yang naik
Sehijau hijaunya ihsg haru itu, pasti tetap ada saham yang turun
Gak mungkin sebuah saham harganya naik terus atau turun terus, pasti yang naik ada turunnya dan yang turun ada naiknya.

Kalau hari ini cuma dapat 1 emiten, kita cari lagi besok.
Kalau besok cuma dapat 1 emiten, kita cari lagi besok.
Lanjutkan aja sampai dapat 20 emiten, toh kita punya waktu panjang kan?

Carinya kemana?
kita bisa baca dari berita, bisa baca baca dari Stockbit
Kalau ketemu kode emiten, kita cek keystatnya, kita cek history harganya, kita cek history dividennya
Misalnya kita menemukan saham ABCD sekarang harganya 1.000
Memiliki keystat baik (PBV DER ROE baca disini)
berdasarkan history rata2 rata dividen adalah 45 rupiah
45 / 1.000 * 100% = 4.5%
ternyata cuma 4.5% sementara target minimal kita adalah 5%
ya sudah, kita pasang GTC aja di 900
kalau dapat sukur, gak dapat jangan lupa bursa maih ada 700 emiten lainnya untuk dipilih.

Rumus mencari harga beli jika kita sudah mengetahui rata2 dividen dan yield yang kita inginkan adalah
Angka Dividen / Dividen Yield yang diinginkan * 100
Misalnya rata2 dividen adalah 80 Rupiah, kita mau beli di harga dengan dividen yield 5%
maka cara mencari harganya adalah 80/5*100 = 1.600
Jadi untuk emiten tersebut, dengan asumsi dividen kedepannya adalah 80 Rupiah harga maksimal beli kita agar mendapatkan dividen yield 5% adalah di harga 1.600 Rupiah


Selanjutnya Strategi Beli Saham ketika kita Top Up Gimana?
Disini karena nominal top up kita tidak setara dengan nominal pembelian per emiten kita (Planning Beli per Emiten 2 juta, sementara top up cuma 500rb)


Kalau kita sudah berhasil membeli 10 Emiten dengan pembelian masing masing 2 juta, kira kira nanti bentuk kebun (portofolio) kita adalah seperti ini.
Kita punya Emiten 1 sampai Emiten 20 masing masing sebesar 2 juta rupiah.
Jika kemudian setiap bulan kita top up 500 ribu, disini kita memiliki beberapa opsi
1. Diamkan dulu , kumpulkan sampai cukup 2 juta baru dibelikan saham baru
2. Tambah beli emiten yang sudah ada yang sedang Floating Loss dalam
3. Cicil Beli Emiten baru (mengisi kolom Emiten 11 s/d Emiten 15 dst)

Diamkan dulu , kumpulkan sampai cukup 2 juta baru dibelikan saham baru
Ini berarti kita selama RDN belum mencukupi 2jt, kita tunggu sampai 2jt baru kita beli saham baru

Tambah beli emiten yang sudah ada yang sedang Floating Loss dalam
Ini kita bisa menambah beli emiten emiten yang sudah ada yang sedang dalam posisi Floating Loss cukup dalam (minimal 10%)
Turunnya harga tidak selalu berarti jelek, yang penting keystatnya (PBV DER ROE) masih sesuai syarat, yang penting emiten itu setiap tahun rutin membagikan dividen, Turunnya harga mengakibatkan turunnya PBV dan naiknya Dividen Yield
Jadi kita malah bisa memanfaatkannya untuk menambah posisi.
Tapi Ingat! Usahakan posisi emiten di portofolio kita balance. Jangan ada 1 atau 2 emiten yang porsinya terlalu besar.
Misalnya kita punya Emiten 1 sampai Emiten 8 masing masing 2jt
tapi Emiten 9 dan Emiten 10 20 juta
kalau ternyata Emiten 9 dan 10 naik memang enak
Tapi kalau ternyata emiten 9 dan 10 malah turun, setengah mati kita Averaging Down atau mau mengharapkan porto kita secara keseluruhan bisa plus.
Jadi kalau mau menambah posisi pun harus ada batas maksimalnya.
Menurut pengalaman, batas maksimal paling ideal adalah 2 kali.
Misalnya setiap emiten adalah 2jt , maka jika ada emiten yang mau porsinya lebih besar maksimalnya adalah 4jt

Cicil Beli Emiten baru (mengisi kolom Emiten 11 s/d Emiten 15 dst)
Atau kita bisa juga cicil beli emiten baru jika emiten yang sudah ada tidak ada yang turun banyak atau kita tidak ada niat untuk membedakan porsi
kita beli emiten baru sebanyak uang yang ada
nanti kalau top up lagi kita lihat lagi apakah emiten baru tersebut harganya masih dalam range harga beli kita. Kalau masih kita beli lagi sampai porsinya 2jt
Kalau emiten baru tersebut harganya sudah diluar range harga beli kita, kita bisa kembali ke poin nomor 1 atau 2 diatas atau kita beli lagi emiten yang baru.

Tujuan berkebun saham adalah memperbesar probabilitas.
Setiap kali membeli, selalu ada 2 kemungkinan yang akan terjadi.
Harga Naik
Harga Turun
Dengan memiliki 1 emiten, artinya kita memiliki 1 kemungkinan terjadi harga naik dan turun
Dengan memiliki 10 emiten, artinya kita memiliki 10 kemungkinan terjadi harga naik dan turun
Tujuan jangka panjang dalam berkebun saham adalah perputarannya.
TP untuk AVG artinya menjual yang sudah naik untuk membeli yang sedang turun
Pada dasarnya setiap emiten selama tidak delisting memiliki kemungkinan untuk turun dalam juga naik tinggi.
Jadi dengan membebaskan waktu yang kita perlukan hanya menunggu sampai ada kesempatan kan?
toh selama menunggu kita dapat ongkos tunggu (dividen)

Bersambung….

File Tutorial – Mencatat Portofolio (lengkap) dengan NAB (Beli – Jual – Top Up – WD s/d Chart) bisa di download di sini

About Kakdr 277 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*