“Sekali Lirik, Oke sajalah” – by Bunga

Dalam dunia psikologi,kususnya psikologi manajemen dan organisasi, ada sesuatu yang disebut sebagai “four stages of competence”, atau empat tahapan kompetensi.

Pertama kali diperkenalkan oleh Martin Broadwell pada tahun 1960-an, model ini mulai menjadi populer ketika di aplikasikan oleh Noel Burch dari Gordon Training International di akhir tahun 1970-an.

Keempatnya adalah:

1. Unconscious Incompetence, atau tidak tahu bahwa tidak mampu. Pada tahap ini, mengingat sifatnya yang “tidak tahu” dan “tidak mampu”, seseorang cenderung menganggap sebuah keahlian itu sulit dan mubazir. Mereka bahkan cenderung menolak melakukan tugas2 yang membutuhkan keahlian tersebut. Seorang pelatih atau manajer harus, pertama2, membangun kesadaran akan ketidak tahuan itu sendiri. sebelum melatih skill untuk mengentaskan ketidak mampuan. Misalnya dengan membangun kesadaran akan manfaat dan benefit efektifitas dan efisiensi jika mereka mempelajari skill/kompetensi yang dimaksudkan.

Tanpa bermaksud menyindir siapapun, mereka2 yang sering berkata “FA sudah mati” atau “TA is bullshit” pada dasarnya termasuk kedalam kategori ini, tidak sadar bahwa mereka tidak menguasai. Di dalamnya terdapat semacam ‘arogansi’ yang bersumber dari penolakan/denial untuk mempelajari karena tidak memahami manfaat dan keuntungan dari kompetensi yang masih ‘asing’ ini.

2. Conscious Incompetece, atau tahu bahwa tidak mampu. Pada tahap ini, seseorang sudah menyadari dan memahami bahwa dia tidak mampu melakukan apa yang ditugaskan/diminta. Dan oleh karena itu dia harus mempelajarinya hingga mencapai standark keahlian yang dihekendaki. Pada situasi seperti ini, alih2 “rasa sombong”, penolakan akan timbul dari rasa frustrasi akibat kegagalan demi kegagalan dalam melatih diri. Manajer atau pelatih harus mampu menjaga motivasi anak didik agar terus menerus berlatih dan mencapai standar yang dikehendaki. Salah satunya dengan mengingatkan anak didik bahwa dengan mengetahui bahwa ia tidak mampu, maka ia sudah selangkah lebih maju dan bisa fokus pada hal2 spesifik dan terpola alih2 berlatih secara acak.

Kadangkala ada diantara kita yang mengalami rasa kesal karena rasa2nya sudah memahami semua teorinya, menggali semua informasinya, dan mendiskusikan segala aspeknya, namun saat di-aplikasikan kedalam praktik-nya, semua masih berantakan dan kacau balau. Worry not, itu normal saja dalam proses menjadi kompeten, bahkan kita harus sedikit bangga, karena kita sudah selangkah lebih maju dan berada di fase kedua dalam proses menjadi kompeten.

3. Conscious Competence, atau tahu bahwa mampu. Pada tahap ini, kesadaran akan kemampuan membuat seseorang sudah mampu melakukan keahliannya hingga mencapai standar yang dikehendaki, Namun, dalam level psikologis, ada kecenderungan untuk menjadi “kaku” atau terlalu “text book”. Ini terjadi karena mereka masih membutuhkan konsentrasi penuh dalam melakukan keahliannya agar terhindar dari kesalahan2. Manajer atau pelatih dapat mulai menyemangati anak didiknya agar berani melakukan improvisasi dan modifikasi, menyesuaikan dengan gaya dan personalitas tiap2 orang, sehingga kompetensi yang telah dimiliki dapat mulai dinikmati, tidak sekadar dikerjakan.

Biasanya para ‘analis’ dan profesional kelas Wall Street jatuh ke dalam fase ini, mereka cenderung teoritis dan text-book dalam kompetensinya. Tidak ada yang salah, namun kerap terlalu kaku sehingga kerap ketinggalan atau salah langkah saat realita tidak sesuai dengan teori yang ada di dalam buku.

4. Unconscious Competence, atau tidak tahu bahwa mampu. Pada tahap ini, kompetensi sudah menjelma menjadi “second nature”, sudah hampir otomatis dan instingtif belaka. Penilaian dan eksekusi dapat terjadi dalam rentang waktu yang amat singkat, dan teknik seringkali tidak lagi dilakukan “by the book”, namun berdasarkan kebutuhan real di lapangan. Anak didik tidak lagi perlu didampingi karena mereka telah memiliki keahlian dan rasa percaya diri yang mencukupi untuk bertindak menyelesaikan tugas secara mandiri dan sempurna.

Pada tahap terakhir ini, anak didik bahkan bisa menjelma menjadi pelatih/manajer, karena kemampuan dan pengalaman yang mereka miliki dapat di transfer ulang dalam siklus pembelajaran dan peningkatan kemampuan di organisasi atau lingkungan sekitar.

Salah satu contoh Unconscious Competence yang paling saya sukai adalah cerita ketika Warren Buffett mencoba membeli Nebraska Furniture Mart dari Rose Blumkin. Alih2 melakukan analisis rumit, audit, atau melacak rekaman jejak kepemilikan properti, melibatkan banyak analis dan bertumpuk2 kertas, Buffett hanya melakukan “oret2” di secarik kertas tisu dan bertanya langsung kepada Mrs. B, julukan populer Bumkin;

“‘Mrs. B. do you owe any money’ and she says ‘no’ and that was it.” Mereka berjabat tangan, dan transaksi selesai.

Buffett sudah mencapai maqom dimana kompetensinya tidak lagi membutuhkan kesadaran untuk di eksekusi, dan (meminjam bait dari lagu Iwan Fals) “sekali lirik, oke sajalah”.

Untuk mencapainya, tentu kita harus melalui tiga tahapan sebelum itu. Dan untuk bisa melewati tiap2 tahapan, kita harus memahami di mana posisi kita berada saat ini, agar proses pembelajaran kita berjalan secara optimal dan sesuai dengan tujuan.

Tabik!

About Kakdr 277 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*