Restrukturisasi Ekuitas Sebelum IPO (by: ipohunter2)

Artikel ini adalah hasil tulisan dari ipohunter2 yang sama seperti gue juga merupakan member dari Stockbit, Forum saham terbesar di Indonesia saat ini.

Kode emiten asli telah mengalami perubahan (editing).

$IHSG – Restrukturisasi Ekuitas Sebelum IPO

Kebanyakan perusahaan yang akan IPO, melakukan restrukturisasi ekuitas menjelang IPO. Tujuannya adalah sebagai berikut;

1. Menaikan jumlah modal disetor agar supaya jumlah lembar saham yang dilepas pada saat IPO meningkat dan jumlah dana IPO yang diterima juga meningkat contoh;

-ABCD jumlah modal disetor pada tanggal 1 Jan 2017 = Rp. 3.000.000.000, jika setoran modal tidak dinaikan sebelum IPO, dengan harga pari @Rp.100, dan jumlah saham yang ditawarkan kepada publik sebesar 34,21% setelah IPO, maka total saham yang diterbitkan pada saat IPO sebanyak;
= (total saham saat ini / (1-34,21%)) – total saham saat ini
= (30.000.000/(1-34,21%)) – 30.000.000 = 15.599.635 lembar saham.
Jika harga IPO = Rp.375 / lembar maka total dana IPO = Rp.5.849.863.201.

Oleh karena itu ABCD menaikan modal disetor terlebih dahulu sebelum IPO sebesar Rp. 20.000.000.000 sehingga total modal disetor naik menjadi Rp.23.000.000.000, dengan harga pari @Rp.100, maka total jumlah saham yang sudah disetor = 23.000.000.000 / 100 = 230.000.000 lembar. Agar supaya menambah jumlah saham yang beredar semakin besar maka saldo “Obligasi Wajib Konversi (OWK)” sebesar Rp.7.500.000.000, dikonversi terlebih dahulu menjadi setoran modal dengan harga konversi Rp.375, dengan nilai pari saham Rp.100, maka terdapat penambahan jumlah saham disetor = 20.000.000 lembar. Setelah setoran modal tunai dan konversi OWK jumlah saham sebelum IPO = 230.000.000 + 20.000.000 = 250.000.000 juta lembar. Jumlah saham yang ditawarkan kepada publik sebesar 34,21% setelah IPO, sehingga total saham yang diterbitkan pada saat IPO
= (total saham saat ini / (1-34,21%)) – total saham saat ini
= (250.000.000/(1-34,21%)) – 230.000.000 = 130.000.000 lembar saham.
Jika harga IPO = Rp.375 / lembar maka total dana IPO = Rp.48.750.000.000.

Sebelum ekuitas direstrukturisasi dengan cara penambahan modal disetor dan konversi OWK jumlah saham yang diteribitkan untuk IPO sebanyak 15.599.635 lembar, dengan harga IPO = Rp.375, maka total dana IPO = Rp.5.489.863.201.

Setelah saham direstrukturisasi dengan cara penambahan modal disetor dan konversi OWK jumlah saham yang diteribitkan untuk IPO sebanyak 130.000.000 lembar, dengan harga IPO = Rp.375, maka total dana IPO = Rp.48.750.000.000.

-EFGH jumlah modal disetor pada tanggal 1 Jan 2017 = Rp. 250.000.000, jika setoran modal tidak dinaikan sebelum IPO, dengan harga pari @Rp.100 dan jumlah saham sebelum IPO yang ditawarkan kepada publik sebesar 22,57%, maka total saham yang diterbitkan pada saat IPO hanya sebanyak = 728.723 lembar saham. Jika harga IPO = Rp.150 / lembar maka total dana IPO = Rp.109.308.408.

Oleh karena itu EFGH menaikan modal disetor terlebih dahulu sebelum IPO sebesar Rp. 51.250.000.000 sehingga total modal disetor naik menjadi Rp.51.500.000.000, dengan harga pari @Rp.100, maka total jumlah saham yang sudah disetor = 51.500.000.000 / 100 = 515.000.000 lembar. Tidak ada saldo “Obligasi Wajib Konversi (OWK)” yang akan dikonversi untuk meningkatkan jumlah saham sebelum IPO. Jumlah saham yang ditawarkan kepada publik sebesar 22,57% setelah IPO, sehingga total saham yang diterbitkan pada saat IPO = 150.000.000 lembar saham. Jika harga IPO = Rp.150 / lembar maka total dana IPO = Rp.22.500.000.000.

-IJKL jumlah modal disetor pada tanggal 1 Jan 2018 = Rp. 100.000.000, jika setoran modal tidak dinaikan sebelum IPO, dengan harga pari @Rp.100 dan jumlah saham sebelum IPO yang ditawarkan kepada publik sebesar 38,89%, maka total saham yang diterbitkan pada saat IPO hanya sebanyak = 636.393 lembar saham. Jika harga IPO = Rp.150 / lembar maka total dana IPO = Rp.68.730.486.

Oleh karena itu IJKL menaikan modal disetor terlebih dahulu sebelum IPO sebesar Rp.27.400.000.000 sehingga total modal disetor naik menjadi Rp.27.500.000.000, dengan harga pari @Rp.100, maka total jumlah saham yang sudah disetor = 27.500.000.000 / 100 = 275.000.000 lembar. Jumlah saham yang ditawarkan kepada publik sebesar 38,89% setelah IPO, sehingga total saham yang diterbitkan pada saat IPO = 175.000.000 lembar saham. Jika harga IPO = Rp.108 / lembar maka total dana IPO = 175.000.000 X 108 = Rp. 18.900.000.000.

Dengan demikian untuk memaksimalkan penerimaan dana IPO, emiten harus merestrukturisasi ekuitas, hanya saja karena keterbatasan dana milik existing shareholder (founder), kemudian kebanyakan emiten IPO melakukan financial engineering, sehingga “se-olah-olah founder telah menyetorkan tunai kedalam kas emiten”, karena atas penerimaan tersebut pada periode yang sama uang hasil setoran tunai tersebut keluar dari kas perusahaan, melalui transaksi pembayaran yang sangat material yang tidak pernah tercatat pada buku emiten pada periode-periode sebelumnya. Berikut ini yang terjadi pada 3 emiten IPO tersebut di atas;

ABCD, atas penerimaan kas dari setoran tunai modal oleh shareholder founder sebesar Rp.20.000.000.000, namun pada periode yang sama dana yang diterima tersebut, kemudian dikeluarkan kembali untuk “uang muka pembelian modem kepada PT Robicomp Komputindo Utama dan PT Asia Global Cemerlang masing-masing untuk pembelian 8.000 unit dan 2.000 unit modem.” Sebesar Rp. 25.019.721.546.

EFGH, atas penerimaan kas dari setoran tunai modal oleh shareholder founder sebesar Rp.51.250.000.000, namun pada periode yang sama dana yang diterima tersebut, kemudian dikeluarkan kembali untuk “Uang muka pembelian bahan baku, berdasarkan perjanjian antara Entitas dengan Oe Ezra Soeharto, Mahmud Subiyantoro dan Willyanto Wijaya Jo terkait kerjasama pengadaan bahan baku kebutuhan produksi. Perjanjian ini berlaku selama 2 – 3 tahun dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan” sebesar Rp. 51.090.147.532.

IJKL, atas penerimaan kas dari setoran tunai modal oleh shareholder founder sebesar Rp. 27.400.000.000, namun pada periode yang sama dana yang diterima tersebut, kemudian dikeluarkan kembali untuk pembayaran utang kepada pihak berelasi sebesar Rp. 26.194.215.285, meskipun pada saat yang sama pihak beralasi masih memiliki utang kepada IJKL sebesar 25.128.780.781.

2. Tujuan restrukturisasi ekuitas lainnya, yaitu untuk mengurangi efek dilusi terhadap shareholder founder atas kepemilikan net asset setelah IPO, sedemikian rupa sehingga kepemilikan publik atas ekuitas turun karena metode restrukturisasi yang dipilih, contoh:

-MNOP merestrukturisasi modal sebelum IPO sehingga setoran modal naik dari Rp. 13.064.240 ribu menjadi Rp.80.000.000 ribu, atau naik sebesar Rp. 66.935.760 ribu.

Jika sumber kenaikan adalah setoran cash tunai yang dilakukan oleh shareholder founder sebesar Rp. 66.935.760 ribu maka net asset (ekuitas) sebelum IPO akan bertambah menjadi = Rp.290.126.488 ribu dan setelah IPO bertambah dari hasil dana IPO sebesar Rp.40.536.883 ribu sehingga total ekuitas setelah IPO = Rp.330.663.371 ribu. Setelah IPO komposisi saham dan penguasaan net asset (ekuitas) tersebut oleh masing-masing shareholder sebagai berikut;
shareholder founder = 80% X 330.663.371 = Rp.264.530.697 ribu
Publik = 20% X 330.663.371 = Rp.66.132.674 ribu

Jika sumber kenaikan ekuitas adalah dividen saham, maka net asset (ekuitas) MNOP sebelum IPO tidak berubah, tetap Rp. 223.190.728 ribu. Sehingga ekuitas MNOP setelah IPO, ditambah dengan hasil dana IPO Rp. 40.536.883, menjadi sebesar Rp.263.727.611. Setelah IPO komposisi saham dan penguasaan net asset (ekuitas) tersebut oleh masing-masing shareholder sebagai berikut;
shareholder founder = 80% X 263.727.611 = Rp.210.982.089 ribu
Publik = 20% X 263.727.611 = Rp.52.745.522 ribu

Karena kepemilikan absolut shareholder publik atas ekuitas berkurang, maka shareholder founder mendapatkan manfaat dari kapitalisasi retained earning menjadi setoran modal sebelum IPO, yaitu sebagai berikut;
Efek dilusi berkurang sebesar Rp.66.132.674 – Rp.52.745.522 = Rp13.387.152 ribu.
Tidak perlu menambah setoran tunai = Rp.66.935.760 ribu.

Demikian ulasan mengenai restrukturisasi ekuitas sebelum IPO, semoga bermanfaat.

Komentar dari gue:
Sering ada yang menanyakan mengenai emiten baru IPO kepada gue, apakah emiten ABCD bagus? kira kira prospek EFGH gimana? katanya IJKL bagus apa benar paman?

Jawaban gue selalu sama….
Jauh jauh dari emiten baru IPO
Apalagi kalau lu berasa masih newbie, masih gak tau apa apa.

pengalaman 7 tahun nyaham, beberapa kali gue ikut book IPO oleh sekuritas yang gue pakai, biasanya sih….
1. Kalau dari Lot yang kita pesan hanya mendapatkan sedikit (pake banget) atau sama sekali gak dapat, kemungkinan besar saat listing harga akan terbang.
2. Kalau dari Lot yang kita pesan kita bisa dapatkan semua atau sebagian besar, kemungkinan besar saat listing harga akan turun
Hihihi, nggak fitnah, tapi memang kenyataan kok.

About Kakdr 245 Articles
Founder of "Kakdr Way (Ncek Glodok Style)" --- Aliran Penangkap Pisau Jatuh Anti Cut Loss

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*